DI JALAN DAKWAH AKU MENIKAH

  • Penulis            : Cahyadi Takariawan
  • Editor              : Pemangku Hayuning Bawono
  • Ukuran           : 13 x 19 cm
  • Tebal               : xx + 272 hlm
  • Penerbit         : Talenta
  • ISBN               : 979-3403-00-4
  • Harga             : Rp.70.000,-
  • Kategori         : Buku Islami

Kegalauan ketika akan memantapkan diri pada sebuah pernikahan. Ketidakpercayaan diri, menganggap diri masih belum mampu dalam berumah tangga, semua disebabkan oleh persepsi yang kurang tepat, karena berorentasi pada materialisme.

Dan banyak orang yang sudah berumah tangga tapi gagal dalam mempertahankan rumah tangganya semuanya disebabkan oleh minimnya pengetahuan dan pemahaman dalam membina rumah tangga.

Buku “Di Jalan Dakwah Aku Menikah”, karya Cahyadi Takariawan ini, memberikan nasihat dan pengetahuan yang cukup apik buat anda yang belum nikah, atau yang akan menikah maupun yang sudah menikah. Buku ini meletakkan prosesi pernikahan dan keluarga dalam kerangka dakwah. Dakwah semestinya harus hadir dalam segala gerak gerik dan tingkah laku kita, dan pernikahan adalah satu dari aktivitas kehidupan yang semestinya juga diletakkan dalam kerangka mengemban amanah ilahiyah berupa dakwah.

Buku ini terdiri dari lima bagian dan dari setiap bagian terbagi menjadi beberapa sub tema setiap bagian dan sub tema mempunyai nasihat dan motivasi untuk para pembaca. Diantara pesan moral dan motivasi tersebut sbb :

  1. Pernikahan adalah sesuatu yang dinanti dan merupakan peristiwa bersejarah dalam hidup, sangat penting sekali buat anda yang akan menikah untuk memiliki bekal. Dikatakan siap jika akal, hati, dan badan kita sudah siap. Dan jangan pernah takut untuk menikah, dengan alasan materi yang belum cukup, ingat menikah itu adalah sunnah Rasulullah SAW. Maka menikahlah dijalan dakwah jalan yang dipilihkan Allah untuk para Nabi dan orang-orang shalih. Bagi seorang perempuan janganlah mempersulit pasangan anda, karena agama itu mudah dan tiada seseorang yang mencoba mempersukar dalam agama melainkan ia akan kalah.
  2. Pada bagian kedua buku ini penulis mengajak kepada pembaca yang mempunyai kesiapan sehingga berani untuk memutuskan menikah, maka sudah layak bagi anda untuk memilih calon pendamping. Agar tidak terjebak dengan keinginan hawa nafsu hendaklah melakukan syura kepada orang-orang shalih, karena kekeliruan dalam musyawarah lebih maslahat dibandingkan dengan kebenaran yang diambil secara individual, maka setelah itu pilihlah pasangan anda. Tapi ingat..! “Perempuan dinikahi karena empat hal, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya atau karena agamanya, pilihlah berdasarkan agamanya agar kamu selamat”. (HR. Bukhari dan Muslim). Disamping itu tidak boleh ada keterpaksaan dan paksaan, seorang janda tidak boleh di nikahi sebelum diminta pendapatnya, dan seorang gadis tidak boleh dinikahi sebelum diminta persetujuanya.
  3. Pada bagian ketiga. Penulis menuntun pembaca setelah siap untuk menikah, maka segeralah mengkhitbah perempuan idaman anda kepada walinya, dan mensegerakan akad nikah, karena peluang munculnya fitnah menjadi lebih besar apabila jarak antara khitbah dan aqad nikah terlalu lama. Dan ingatlah salah satu rukun dan syiar pernikahan adalah memberikan mahar dan melakukan walimah, selain sebagai rukun mahar juga sebagai bukti cinta dan kasih sayang seorang suami kepada istrinya, sedangkan walimah/pesta pernikahan yang di sunnahkan sebagai pemberitaan kepada khalayak dan ungkapan syukur atas terjadinya pernikahan, harus menampakkan syi’ar kebaikan sehingga mempunyai nilai ibadah. Berjanjilah mulai hari ini, bahwa keindahan hidup berumah tangga pada mulanya berasal pada kesadaran anda akan janji besar ini.       
  4. Menikah adalah menyatukan dua keluarga besar, dan mempertemukan dua orang asing, menyatukan dua karakter yang berbeda laki laki dan perempuan dalam satu rumah tangga, semula mereka tidak saling mengenal, kecuali sebatas keperluan peminangan saja, tidak pernah berdua-duan di tempat sepi. Maka pasti akan banyak tantangan, pasti akan ada masalah. Oleh karena itu harus ada komunikasi yang baik, harus ada keterbukaan (musharahah) karena itu adalah kunci awal yang efektif untuk menghadapi tantangan dan memecahkan persoalan.

Dan penulis juga memberikan motivasi agar kita tidak menganggap remeh hal-hal kecil yang semula dianggap tidak bermakna, seperti kebiasaan membawakan oleh-oleh, kebiasaan kecil ini mampu merekatkan kekeluargaan. Atau ucapan selamat kata-kata penghargaan atas hari-hari istimewanya akan mampu mengokohkan kasih sayang keduanya.

Kesimpulan

Buku “Di Jalan Dakwah Aku Menikah” memberikan motivasi dan pengetahuan, sebagai bekal untuk anda yang belum menikah dan yang sudah menikah. Khususnya yang belum menikah jika anda memiliki kesiapan untuk menikah segeralah melangsungkan pernikahan di jalan dakwah. Jalan inilah yang mengantarkan Nabi Muhammad SAW., menikahi para istri-istrinya. Jalan inilah yang mengantar ummu Sulaim menerima pinangan Abu Thalhah.

Oleh : Husein Al-Bayana, S. Pd.I.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay