RENUNGAN HATI SEORANG HAMBA YANG LELAH

Identitas Buku :

  • Judul Buku : Dear God (Renungan Seorang Hamba Yang Lelah)
  • Penulis : Isfaroh
  • Penyunting : Erlinadani
  • Penerbit : Mueeza
  • Distributor : PT Anak Hebat Indonesia
  • Tahun Terbit : November 2017
  • Tebal : 181 Halaman
  • Harga Buku : 49.500

Ikhtisar Buku

            Cobaan yang di alami manusia diantaranya rasa kecewa yang timbul ketika kecintaan kepada manusia tak sejalan dengan rencana, Impian yang tak tercapai, seseorang yang memberikan kinerja terbaik namun harapan untuk naik jabatan ternyata tidak terwujud, kebangkrutan yang di alami dan berharap kepada manusia namun tak seorangpun ada yang menolongnya.

Semua manusia berharap hidupnya bahagia, dipenuhi dengan canda tawa bersama orang-orang yang dicintainya. Namun, setiap keadaan yang tak sejalan dengan harapan kadang menimbulkan kekecewaan dalam diri. Merasa menjadi seorang hamba yang buruk dari seluruh manusia. Bisa jadi rasa lelah, kecewa, dan permasalahan yang tak kunjung usai menimbulkan niatan seseorang untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Sejatinya sebagai seorang hamba yang lelah, patutnya kita merenungi setiap apa yang terjadi di dalam hidup kita. Ketika kesedihan melanda, manusia kerap mempertanyakan hakikat dirinya karena tidak layak menjadi seorang manusia yang tinggal di dunia. Semua pasti mengalami kesedihan, jangan menyerah menjalani hidup. Sendiri itu sepi. Meskipun begitu saat orang-orang meninggalkan kita dalam kesendirian, bukan berarti kita sendirian, di sisi kita masih ada yang membersamai kita, menjaga kita dalam setiap waktu, dan tak pernah lelah megawasi kita.

Ketika tidurpun kita berada pada penjagaannya itu adalah Allah. Tuhan yang senantiasa menyertai kita dalam setiap waktu, tidak ada sedikitpun jeda waktu bagi Allah untuk meninggalkan kita. Seperti yang terkandung dalam firman Allah dalam Q.S Ali Imran 3: 173 : “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah sebaik-baiknya Pelindung”.

Segala sesuatu yang ada di dunia ini bersifat sementara dan tidak ada yang abadi. Baik itu yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa, semua hanyalah perhiasan dunia. Sejatinya manusia tidak memiliki apa-apa. Meskipun kelihatannya sekarang memiliki orang-orang yang di cintai, jabatan, harta benda. Suatu saat pasti semua akan meninggalkannya. Hal itu menggambarkan segala sesuatu yang kita miliki saat ini merupakan titipan dari Allah dan suatu saat pasti akan kembali kepada Allah.

Kauf merupakan kondisi kejiwaan yang timbul akibat dari dugaan akan munculnya sesuatu yang di benci atau hilangnya sesuatu yang di senangi. Didalam Islam rasa takut harus bersumber pada Allah. Hanya Allah yang berhak di takuti oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada- Nya. Kauf terwujud dalam tangisan tersedu- sedu dari orang yang dapat mengukur bahagia akibat dari suatu perbuatan, sehingga ia termotivasi untuk melakukan kewajiban-kewajiban.

Dia tidak menjerumuskan dirinya ke dalam perbuatan menyimpang  dan dosa. Bahkan dia tidak berdiam diri di tempat yang di duga. Dapat menjerumuskan dalam kejahatan dan kerusakan kebaikan. Kemudian Khaufnya meningkat, sehingga ia menghiasi dirinya dengan sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh orang-orang yang selalu dekat dengan Allah. Khaufnya akan berpindah dari jasmani menuju alam rohani, sehingga dia memiliki kesedihan-kesedihan yang tidak dapat di ketahui kecuali oleh orang-orang yang suci.

Raja’ : suatu keadaan mental yang optimis adanya limpahan Rahmat Tuhan. Setiap optimis ini menambah semangat untuk meningkatkan ibadah kepada Tuhan, sehingga Raja’ datang setelah Khauf. Raja’ berhubungan dengan harapan agar di terima setiap ibadah yang di jalankan.

Ada 3 hal yang harus di penuhi dari orang yang raja’ :

1. mencintai yang di harapkannya.

2. takut akan kehilangannya.

3. usaha untuk mendapatkannya.

Ibnu Qayyim berpendapat : dalam perjalanan menuju Tuhan, cinta takut dan harapan merupakan inti. Setiap orang yang mencintai tentu berharap sekaligus takut. Setiap cinta akan disertai rasa takut dan harapan  karena perjalanan menuju Tuhan tidak terlepas dari dosa dan mengharapkan ampunan, tidak terlepas dari amal saleh  dan mengharapkan di terima, tidak lepas dari istiqomah dan mengharapkan kekekalannya dan tidak lepas dari kedekatannya dengan Tuhan dan mengharapkan pencapaiannya. Jadi harapan (raja’) merupakan tercapainya apa yang diinginkan.

Relasi antara kauf dan raja’ digambarkan dengan takut kepada neraka dan mengaharapkan surga-Nya. Takut jauh dari-Nya dan mengharap untuk berada di dekat-Nya. Takut di tinggalkan-Nya, dan mengharap Ridha-Nya. Takut putus hubungan dengan-Nya dan berharap terus berinteraksi dengan-Nya.

Dengan demikian takutlah hanya kepada Allah dan berharaplah kepada-Nya. Hanya Allah yang berhak di takuti, takut tidak mendapatkan cinta-Nya, takut tidak dapat nikmati surga-Nya, takut tidak mendapat Ridha-Nya, Berharaplah kepada Allah, berharap selain kepada Allah hanya menimbulkan kekecewaan semata.

Kesimpulan Berharap lebih kepada dunia itu mengecewakan, baik berharap kepada manusia, kepada harta ataupun kepada kekuasaan. Hidup di dunia ini hanya sementara, dunia bersifat fatamorgana, semuanya akan binasa. Tidak ada gunanya mencintai dunia, karena dunia hanya sesaat. Semuanya tidak ada yang abadi, hanya Allah yang kekal selamanya. Maka berharaplah lebih kepada Allah, karena Allah sangat menjanjikan, memohonlah pertolongan kepada-Nya, sebab Allah senantiasa menolong hamba-hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan. Jangan merasa sendirian, Allah selalu menemani hamba-Nya di setiap hembusan nafasnya.

Oleh : Desi Fatmawati, S.Pd.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay