ISTIRAHATKAN DIRIMU DARI KESIBUKAN DUNIAWI

IDENTITAS BUKU

Judul Buku    : Istirahatkan Dirimu dari Kesibukan Duniawi

Judul Asli    : At – Tanwir Fi Isqath  At – Tadbir

Penulis Buku    : Ibnu Atha’illah as – Sakandari

Penahkik    : Muhammad Abdurrahman As-Syagul

Penerjemah    : Zulfahani Hasyim, Lc.

Penerbit    : PT. Rene Turos Indonesia

Tahun Terbit    : 01 Oktober 2021

Tebal Halaman    : 428 Halaman

Harga    : Rp. 135.000

ISI BUKU

    Hidup seringkali berjalan tidak sesuai  dengan apa yang kita rencanakan. Bahkan rencana yang sudah kita perhitungkan dengan matang, juga kerap tidak terwujud sebagaimana yang kita inginkan. Tidak jarang berujung pada kegagalan.

Begitulah memang, manusia hanya bisa menyusun rencana, ketetapan Allah bisa meruntuhkannya kapan saja.

    Meski demikian, bukan berarti kita tidak perlu melakukan usaha atau ikhtiar dalam setiap langkah yang akan kita jalani. Karena jika kita terlalu menganggap bahwa hidup kita selayaknya wayang, yang segala geraknya ditentukan oleh dalang, kita bisa tergolong sebagai kaum Qadariyah. Sebaliknya, jika kita terlalu berpegang kepada ikhtiar dan kemampuan kita  sebagai manusia yang lemah ini, kita bisa tergolong dalam kelompok Jabariyah.

    Sejatinya manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk mengatur rencana takdirnya. Wilayah manusia hanya sebatas pada ikhtiar sekuat tenaga dalam menggapai berbagai urusan dunia, manusia hanya tinggal memasrahkan segalanya kepada Allah SWT sang pengatur semesta. Kita tidak perlu sibuk turut serta mengatur hasil akhirnya. Biarkan itu semua menjadi keputusan Allah agar hidup kita menjadi lebih tenang dan bahagia.

Di dalam kitab at-Tanwir ini, Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari menguraikan tentang kehidupan dengan narasi yang jelas dan rinci. Mengungkap cara bagaimana mencapai kehidupan yang tenang dan menyenangkan. Kehidupan yang berjalan tanpa rasa cemas dan kekecewaan. Penjelasannya tentang hal ini dipaparkan dengan ringan dan sangat mudah dipahami. Sebab keindahan bahasa dan kedalaman makna yang diungkap oleh Syekh Ibnu Athaillah sanggat indah.

Dalam kitab al-Hikam, disebutkan dalam kitab Iqadh al-Himam fi syarh al-Hikam bahwa, “Seandainya dalam shalat dibolehkan untuk membaca selain ayat-ayat al-Quran, bait – bait dalam kitab ini sangat layak untuk itu.” Sungguh dahsyat memang. Kabar baiknya, dalam kitab at-Tanwir yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini, Ibnu Atha’illah tidak berubah. Meski menjelaskan dalam bentuk narasi, beliau tetap menyusun kata demi kata dengan indah dan penuh muatan hikmah.

Uraian dalam kitab ini diperkaya dengan banyak petikan ayat al-Qur’an dan hadis Nabi. Sesekali diselingi dengan bait syair  dan ungkapan ulama yang menggugah nurani. Di tangan Ibnu Atha’illah pula, tasawuf yang terkesan sulit dipahami oleh nalar orang biasa dan cenderung menggunakan bahasa langit, menjadi sangat membumi: aplikatif, solutif, dan relevan untuk menjawab berbagai problematika hidup manusia modern saat ini. Terutama menjawab berbagai problem kecemasan yang semakin banyak melanda jiwa-jiwa yang kering dari limpahan kasih-Nya.

Jika kita renungi dengan saksama, seperti disebutkan dalam kata pengantar buku ini, dapat dikatakan sebagai ringkasan atau inti sari dari seluruh pembahasan yang diuraikan dalam kitab at-Tanwir ini, 

أَرِحْ نــَفْسَـكَ مِنَ الـتَّدْبِــيْرِ، فَمَا قَامَ بِـهِ غَيْرُ كَ عَـنْكَ لاَ تَـقُمْ بِـهِ لِنَفْسِكَ 

Artinya: “Istirahatkan dirimu dari kesibukan mengurusi dunia, apa yang telah Allah atur tidak perlu kau sibuk ikut campur”.

Ibnu Atha’illah mendorong kita untuk memasrahkan urusan duniawi yang sudah Allah atur, dan hendaknya kita tidak perlu kita ikut sibuk mengurusinya. Karena dirasa sangat mewakili kandungan dari kitab ini.

Ada banyak sekali jawaban yang dijabarkan oleh Ibnu Athaillah yang sangat cocok dengan beragam persoalan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Tentang rezeki misalnya, sebuah persoalan yang setiap manusia hadapi saat ini. Dengan sangat rinci Ibnu Atha’illah menguraikan mulai dari mengapa Allah memberikan manusia ruang untuk mencari rezeki? Mengapa tidak Allah Swt. penuhi saja semua kebutuhannya tanpa perlu mencarinya? Dalam bagian lain Ibnu Athaillah menjelaskan bagaimana Allah menjamin rezeki dan segala kebutuhan hamba-Nya. Dijelaskan juga bagaimana cara seorang hamba untuk menyesuaikan antara ikhtiar dan tawakal dalam segala usaha yang dilakukannya. Di bagian yang lain, beliau memberi kita doa agar rezeki dan segala usaha kita diberi kelancaran oleh Allah swt.

Dalam buku ini Imam Ibnu Athaillah secara garis besar membahas dengan jelas batasan antara ikhtiar dan tawakal secara rinci sesuai judulnya, At-Tanwir fi Isqath at-Tadbir, membahas tentang tadbir Allah. Seorang ulama sekaligus filsuf muslim pertama di Spanyol, Ibnu Bajjah menjelaskan dalam bukunya Tadbir al-Mutawahhid bahwa kata tadbir sering ini digunakan dengan makna yang berbeda-beda. Namun, umumnya dimaknai sebagai, “Mengatur tindakan untuk sebuah tujuan yang direncanakan.” Tadbir digunakan dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan. Karena Allah Swt. adalah mudabbir, Yang Maha Mengatur. Sebab demikian, tadbir yang paling hakiki adalah tadbir Allah. Sedangkan penggunaan istilah ini bagi manusia hanya sebagai analogi saja.

Dapat disimpulkan bahwa sejatinya manusia tidak sama sekali mempunyai kemampuan untuk mengatur rencana takdirnya. Wilayah manusia hanya sebatas pada ikhtiar dan tawakal. Selebihnya, setelah berusaha dan berikhtiar sekuat tenaga dalam menggapai berbagai urusan dunia, manusia hanya tinggal memasrahkan segalanya kepada Allah swt, Sang Pengatur semesta. Kita tidak perlu sibuk turut serta mengatur hasil akhirnya. Biarkan itu semua menjadi keputusan Allah semata. Dengan begitu, hidup kita akan menjadi lebih tenang dan bahagia. 

OLEH : SURYADI, S.Pd.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay