SEGALA – GALANYA AMBYAR

Identitas Buku

  • Judul Buku                  : Segala-galanya ambyar
  • Penulis Buku               : Mark Manson
  • Penerjemah                 : F. Wicaksono
  • Penerbit Buku             : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
  • Tahun Terbit               : 2019
  • Tebal Halaman           : 346 Halaman
  • Harga Buku                 : Rp. 98.000,00

Ikhtisar Buku 

Bagian 1

# Harapan

Chapter pertama dibuka oleh kisah heroik Witold Pilecki ia adalah seorang tentara, dia dikenal dengan pahlawan perang dari Polandia yang menyerahkan diri untuk ditahan di Auswitch demi mengetahui jika petinggi petinggi di Polandia hilang satu persatu karena ditangkap padahal dia tau kemungkinannya sangat kecil untuk dapat kembali dalam keadaan selamat bahkan teman-temannya mengatakan bahwa itu termasuk misi bunuh diri karena tingkat keselamatannya yang rendah bahkan tidak mungkin. Ia melakukan itu karena ingin mengetahui keadaan sebenarnya di camp penjara Auswitch dan ia juga ingin membebaskan rekan-rekannya yang ditahan serta mengumpulkan informasi dari camp penjara tersebut.

Sebagai informasi, bahwasanya di Camp Auswitch ini adalah sebuah simbol paling kejam atau paling brutal dari aksi pembantaian yang disebut dengan helkous yang membunuh sekitar 5,6 juta Yahudi di seluruh Eropa dan yang mengerikan dari camp ini adalah kamar gas nya yang digunakan untuk menyiksa dan membunuh para tahanan.

Singkat cerita si Witold Pilecki ini berhasil kabur dan membagikan informasi ke seluruh dunia. Dan setelah kabur diapun masih tetap memutuskan untuk berada di Polandia meskipun ia tahu pada akhirnya ia akan ditangkap dan setelah ia tertangkap ia disiksa untuk dipaksa memberitahukan nama rekan-rekan lainnya, akan tetapi ia tetap tidak memberitahukan dan pada akhirnya ia dibunuh.

Nah pertanyaannya adalah kenapa seorang Witold Pilecki  ini melakukan hal heroik tersebut? Jawabannya adalah karena adanya harapan. Harapan untuk mengubah keadaan, harapan untuk memberitakan kepada seluruh dunia bahwasanya ada kejadian tersebut. Sama halnya dengan kita ketika kita mengerjakan segala sesuatu di sekolah mutiara dengan sungguh sungguh dan penuh keikhlasan semua itu bukan lain karena adanya hope atau harapan. Harapan untuk kita mendapatkan pahala jariyah, harapan untuk terus mengembangkan diri dan harapan untuk dapat bersama sama kembali di Surganya Allah SWT.

Berikutnya di buku ini Mark Manson juga menarasikan bahwasanya lawan kata dari kebahagian ialah bukan sedih, bukan marah tetapi tidak adanya harapan. Ketika kamu marah atau sedih itu masih menandakan adanya kepedulian, tetapi kalau tidak adanya harapan merupakan sebuah ruang atau kondisi abu-abu yang membuat kita tidak peduli, merasakan hal datar, tidak ada hasrat untuk hidup dan menurut Mark Manson itu merupakan akar dari depresi, penyakit mental dan juga kecemasan.

Selanjutnya dibuku ini penulis juga menjelaskan tentang paradoks dari sebuah proses, Dunia ini semakin berkembang contohnya banyak sekali obat yang diciptakan sehingga angka kematian semakin kecil. peperangan semakin sedikit, Era digitalisasi yang dengan adanya internet mampu mengakses informasi dari manapun. semuanya bisa dilakukan dengan mudah. Tetapi kenapa orang semakin kesini malah semakin depresi dan tertekan padahal keadaan semakin baik dengan banyaknya kemudahan. kira-kira kenapa ya, ada yang tahu? jawabannya adalah karena krisisnya harapan.

Orang dulu ketika ingin melakukan sesuatu contohnya ketika ingin berangkat sekolah walaupun jarak yang ditempuh itu jauh berkilo kilo meter dengan berjalan tetapi mereka tetap melakukannya dengan penuh semangat karena adanya harapan. Yaitu harapan untuk bisa belajar, harapan untuk bertemu temannya temannya dan harapan untuk menggapai cita citanya. Beda dengan halnya beberapa orang  sekarang dengan semua kemudahannya tapi malah banyak anak anak yang bolos, malas, tidak mau berangkat sekolah hanya karena badmood padahal alat transportasi mendukung dan dimudahkan dengan adanya sepeda motor, gojek, garap, gocar semua sudah mudah tetapi kenapa kemudahan itu justru membuat prilaku menjadi buruk. jawabannya adalalah krisisnya harapan. dari pada mengharapkan sesuatu lebih baik menjadi sesuatu (Formula dari Mark Manson)

Selanjutnya penulis juga menjelaskan tentang 3 komponen yang dapat memaintenance sebuah harapan :

1. Kita harus punya pikiran kalau kita bisa mengontrol sesuatu, kita punya kendali atas sesuatu.

2.  Kita harus punya sesuatu yang kita cari dan kita show, kita harus punya sesuatu yang kita percayai suatu saat akan menjadi lebih baik dikemudian hari.

3. Kita butuh temukan sesuatu komunitas atau orang yang mempunyai value yang sama.

Jika kita kekurangan salah satu dari ketiga aspek ini dalam jangka waktu lama maka kata Mark Manson kita akan kehilangan sebuah harapan dan hidup kita jadi hampa serta mudah depresi.

Bagian 2

# Segala-galanya ambyar

Disini penulis menggambarkan bagaimana kehidupan tanpa harapan.

Di chapter pertama (Penulis menceritakan proses kita untuk menjadi dewasa) dimulai dari masa anak anak, remaja, sampai dewasa. Katanya menurut penulis menjelaskan perbedaan antara anak anak, remaja dan dewasa itu bukan dari usianya melainkan dari etension untuk melakukan sesuatu misalnya contohnya begini anak anak mencuri permen karena rasanya enak, anak remaja tidak mencuri permen karena dapat merusak masa depannya dan orang  dewasa tidak mencuri permen karena dapat membuat dirinya menjadi buruk.

Maka jadilah orang dewasa yang melakukan sesuatu bukan karena terasa enak atau tidak menginginkan hal lainnya tetapi jadilah orang dewasa yang sadar melakukan sesuatu itu karena benar.

Melindungi manusia tidak semata mata membuat orang itu merasa lebih senang melalaikan membuat mereka lebih mudah untuk merasa insekur, karena masalah akan selalu ada dan alih alih menghindari masalah lebih baik untuk menghadapinya karena dengan menghadapinya kita akan menjadi pribadi yang lebih baik.

Menceritakan tentang evolusi ekonomi yang sebelumnya menceritakan tentang pendekatan pemikiran menjadi pendekatkan perasaan, dia menceritakan keberhasilan memasarkan menggunakan pendekatan perasaaan (feeling) dari pada pemikiran (thinking) saat ingin memasarkan sebuah produk kepada orang lain, penulis juga memberikan contoh seperti ketika memberi pasta gigi jika pemilihan pasta giginya semakin banyak apakah kita akan semakin bebas? dan jika jawabannya tidak berarti itu benar karena pilihan banyak itu hanyalah variasi saja, menurut Mark kebebasan yang hakiki ialah kebebasan dimana kita memilih untuk tidak memilih dan kebebasan untuk membatasi diri.

Penulis menarasikan manusia akan mendapatkan agama baru, Tuhan yang ia percayai yaitu IA (Artificial Inteligence) bagaimana IA berkembang melebihi kemampuan manusia, dibagian ini saya juga sangat tidak setuju karena sudah ke ranah akidah kita ya namanya buku penulis yang memang backgroudnya berbeda jadi ketika kita membaca tidak boleh semuanya ditelan mentah mentah, harus kemudian mengambil yang baik baiknya saja itulah kenapa kita harus lebih teliti kritis dalam membaca khususnya untuk penulis yang berbeda dengan kita.

Buku “Segala-Galanya Ambyar” kita bisa melihat beberapa ide-ide organik Mark salah satunya dalam bentuk kebebasan yang sejati, dimana merupakan satu-satunya bentuk dari kebebasan etis adalah sebuah pembatasan diri. Dimana ini bukan hak-hak istimewa untuk memilih semua yang kalian inginkan dalam kehidupan kalian melainkan dalam memilih apa yang akan anda korbankan dalam hidup kalian. Serta melalui buku ini kita sebagai pembaca menjadi mengenal berbagai teori-teori dan juga teknik yang digunakan oleh filosofer dan psikolog yang memiliki, serta argumentasi yang kuat dan juga dilengkapi dengan hasil penelitian, data statistik dan juga pengalam hidup dari Mark Manson sendiri.

Pada dasarnya kita sebagai manusia yang merupakan mahluk paling aman dan juga makmur sepanjang sejarah dunia ini tetapi keputusaan yang sering kali kita rasakan juga yang buruk dari pada masa-masa sebelumnya dan semakin baik keadaan kita semakin buruknya keputusan yang melanda diri kita. Hal-hal itu lah yang merupakan paradoks kemajuan.

Penulisan yang dituliskan oleh Mark sendiri juga terbilang unik karena di setiap paragraf yang disisipkan humor yang secara sarkas dan juga blak-blakan. Namun, buku ini kurang cocok untuk semua kalangan dikarenakan makna, kata, serta konten yang tidak mudah untuk dimengerti dan terkadang terasa membosankan. Kata-kata dan bahasa asing yang tidak mudah untuk masyarakat umum mengerti dan pahami, namun beberapa kata-kata yang sulit serta bahasa asing dalam buku ini ada penjelasannya pada bagian akhir halaman, namun sayangnya tidak semua pembaca memiliki niat untuk membaca bila menemukan kata-kata yang tidak dimengerti.

Oleh : Roby Rosihan Ramazetty, S.T.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay