BERANI MENERTAWAKAN DIRI SENDIRI

Identitas Buku

  • Judul                           : Berani Menertawakan Diri Sendiri
  • Penulis                        : Sulaiman Budiman
  • Penerbit                       : PT. Bhuana Ibnu Populer
  • Cetakan/Tahun Terbit : 3/2011
  • Terdiri dari                  : 45 Bab
  • Harga buku                 : Rp. 35.000
  • Tebal Buku                 :198 halaman

Ikhtisar Buku

            Buku ini ditulis oleh Sulaiman Budiman. Buku “Berani Menertawakan Diri Sendiri” yaitu sebuah buku yang luar biasa, penuh makna. Buku yang membantu kita untuk bercermin diri, sehingga kita mampu melihat diri dengan lebih jelas. Buku ini dikemas dengan bahasa yang mudah dimengerti, ringan, dan mengundang kita untuk tersenyum bahkan tertawa.

Hal yang menarik dari 45 kisah yang ada dalam buku ini, semuanya diawali dengan kata-kata bijak (Golden Word) dari tokoh-tokoh terbesar dunia, sehingga mamacu pembaca untuk mengetahui isi dalam  setiap judul dalam buku tersebut.

“Tertawakanlah diri sendiri sebelum orang lain melakukannya”. Itulah kalimat bijak yang sangat relevan dengan tema buku ini. Buku ini membuat kita belajar untuk lebih pandai melihat lebih dalam ke diri kita, lebih jeli menilai diri kita sendiri, sebelum kita menyibukkan diri untuk melihat orang lain dan sibuk menyusun kalimat-kalimat penilaian untuk orang lain.

Buku ini sangat luar biasa dan inspiratif, bacaan yang ringan namun mampu menyadarkan kita untuk lebih berani menertawakan diri kita sendiri. Buku ini memberikan cerminan kepada kita bahwa kita kerap menertawakan orang lain, menertawakan kebodohan orang lain, menertawakan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, padahal dirinya sendiri juga pantas untuk ditertawakan.

Kisah-kisah yang terdapat di buku ini memberikan kita pelajaran untuk lebih menyadari kekurangan dan kelemahan diri sendiri. Banyak aktivitas kita sehari hari yang dapat kita tertawakan pada diri sendiri, seperti pada kisah seorang anak gembala yang ingin menggiring kerbau-kerbaunya, dan ia melompat ke punggung salah satu kerbau kesayangannya.

Namun, sebelum anak gembala tersebut menggiring kerbau-kerbaunya pulang dia menghitung kembali jumlah kerbaunya dan ia kaget bahwa kerbaunya hilang satu. Berulang kali dihitung jumlahnya tetap sembilan padahal seharusnya sepuluh. Kemudian seorang bapak tua menghampiri anak gembala yang sedang kebingungan itu, dan bertanya, anak gembala itu pun menjelaskannya kalau kerbaunya hilang satu. Si bapak tua pun mencoba menghitung jumlah kerbau si anak gembala, dan bapak tua tersebut terseyum dan menjelaskan bahwa kerbau tersebut tidak ada yang hilang.             Ternyata, anak gembala tersebut tidak menghitung kerbau yang ia tunggangi. Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang yang kerap melemparkan kesalahannya kepada orang lain, padahal sumber masalahnya ada pada dirinya sendiri.

Pada artikel lain dari buku ini bab ke 42 halaman 181 yang berjudul seorang ayah dan banyinya juga dapat memperlihatkan betapa bodohnya diri kita terhadap persoalan hidup ini, dimana ayah tersebut sampai memanggil dokter yang menurut ayah tersebut anak ini nangis terus menerus karena sakit.

Padahal setelah diperiksa dokter ternyata hanya diperlukan mengganti popok yang sudah basah. Dari artikel ini terlihat bahwa sangat banyak persoalan dalam hidup ini yang tampaknya begitu besar dan sangat sulit untuk dipecahkan, padahal penyebabnya adalah hanya persoalan sepele saja.

Itulah beberapa kisah dalam buku Berani Menertawakan Diri Sendiri. Yang pasti akan Anda temukan kisah-kisah lain yang lebih menarik dan kocak.

Tetapi menurut saya, buku ini akan lebih menarik jika dari 45 kisah yang disuguhkan itu dibagi dalam beberapa bab sesuai dengan inti cerita. Dengan demikian, pembaca bisa memilih tema yang diinginkan, sehingga tidak terkesan sebagai buku “kumpulan cerita” belaka.

Buku ini merupakan karya Sulaiman Budiman yang ketiga setelah dua buku sebelumnya, Golden Wisdon dan Ubah Slogan Menjadi Tindakan.

            Semoga dengan membaca buku ini, kita akan Berani Menertawakan Diri Sendiri. Karena seperti kata Philip Purnama, “Orang yang berjiwa kerdil adalah orang yang sering menertawakan kelemahan orang lain. Dan, orang yang berjiwa besar adalah orang yang sering menertawakan kelemahan dirinya sendiri.”

Kata Sulaiman Budiman, “Berani menertawakan kelemahan dan kebodohan diri sendiri adalah sebuah tindakan bijaksana dan sikap terpuji.”

Oleh : Anis Riskiyatul Jannah, S.Pd.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay