SANG MUHALLIL

  1. Identitas Buku

Judul Buku            : Sang Muhallil

Penulis                  : Puapa P. Markhip

Diterbitkan Oleh   : Diandra Kreatif/Mirra Buana Media

Cetakan                 : 1. September 2020

Jumlah Halaman  : 326 Halaman

Harga                    : 90.0002

2. Ikhtisar Buku

Muhallil adalah laki-laki yang menikahi perempuan yang sudah ditalak tiga oleh suaminya, pernikahan muhallil sendiri dilakukan apabila sang mantan suami ingin menikah kembali dengan mantan istrinya tersebut. Tepatnya mantan istri harus menikah dengan laki-laki lain terlebih dahulu jika mantan suami ingin kembali rujuk dengan mantan istri.

Buku ini didedikasikan untuk tokoh Hamzah yang tak lain adalah sahabat penulis yang memiliki kisah nyata dalam buku ini, Hamzah telah berpulang dalam penantian membawa serta cinta dan penyesalannya, Dari kisah hamzah kita dapat mengambil banyak pelajaran tentang hidup.

Pernikahan tidak hanya selalu tentang bahagia namun suatu ikatan yang sangat sakral dan penyatuan dua insan manusia, dimana keduanya bertanggung jaawab untuk sama-sama menyatukan komitmen dalam membangun sebuah keluarga yang Sakinah Mawaddah dan Rohmah, sebuah ikatan suci yang diridhoi oleh ALLAH SWT.

Namun, apa jadinya jika salah satu diantara pasangan lebih mementingkan egonya sendiri dan tidak memiliki rasa percaya terhadap pasangannya. Seperti yang terjadi pada Hamzah, ia menjatuhkan talak tiga sekaligus pada istrinya yang belum genap ia nikahi 24 jam dalam satu tarikan nafas, ia mentalak istrinya hanya karena sebuah fitnah keji yang dituduhkan kepada istrinya yang belum jelas kebenarannya. Hingga pada akhirnya ia menyesali perbuatannya tersebut dan memutuskan untuk kembali kepada sang mantan istri, namun ada syarat yang harus dipenuhi oleh Hamzah jika ingin kembali menikah dengan sang mantan istri yaitu merelakan mantan istrinya menikah dengan laki-laki lain terlebih dahulu atau menikah muhallil.

Kesepakatan antara Hamzah dan mantan istripun terjadi. Sang mantan istri bersedia menikah dengan sang muhallil. Namun siapa yang bisa menjamin sesuatu yang rumit tidak akan terjadi, ditengah-tengah membina rumah tanggaa baru dengan sang muhallil, sang mantan istri justru jatuh cinta kepada sang muhallil hingga memutuskan untuk berbakti daan mengabdikan seluruh hidupnya dengan sang muhallil. Sedang Hamzah hanya menanti dan hanya bisa menerima penyesalan dari buah perbuatannya yang diakibatkan oleh emosi sesaat. Hingga pada ahirnya Hamzah meninggal dengan membawa luka serta penyesalannya tersebut.

“Jangan membuat keputusan ketika sedang marah, dan jangan membuat janji saaat sedang gembira ~ Ali bin Abi Thalib

Oleh : Khaerunnisa

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay