HUJAN

Identitas Buku

  • Judul                           : Hujan
  • Penulis                        : Tere Liye
  • Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan/Tahun terbit  : IX/2016
  • Terdiri dari                  : 32 Bab
  • Harga Buku                 : Rp. 75.000
  • Tebal Buku                 : 320 halaman

Ikhtisar Buku

            Sebuah buku novel yang ditulis oleh salah satu penulis terkenal di semua kalangan usia, kita biasa memanggilnya Bang Tere, dengan genre romance science fiction dan mengambil setting waktu masa depan yaitu pada kisaran tahun 2042-2050. Masa dimana teknologi sudah sangat maju dan mengambil alih kegiatan manusia. Saat mobil bisa terbang dan mampu berjalan tanpa dikemudikan. Sebagian orang memiliki kamera berterbangan mengambil view terbaiknya, mesin cetak tiga dimensi, juga bando logam penghapus ingatan dan hanya dengan sebuah chip multifungsi berbentuk layar kecil dilengan, bisa digunakan sebagai alat pembayaran, alat komunikasi, pengganti tiket bus, juga sebagai alat mengirim pesan. Uniknya alat chip ini bisa mengirim pesan dengan hanya memikirkan, maka layar dilengan langsung bisa menuliskannya. Keren.

            Tapi sayangnya ketika teknologi sudah mengambil alih kegiatan manusia, bumi mengalami masalah serius, overpopulasi. Mengenai overpopulasi tersebut saya jadi ingat sebuah film yang rilis pada tahun 2016 dengan judul inferno yaitu seorang ilmuan yang membuat sebuah virus untuk mengatasi overpopulasi.

            Pemerintah di Negara kita juga berharap bisa mengatasi overpopulasi dengan adanya program KB. Nah, di cerita ini terjadi letusan gunung berapi berskala 8 VEI kemudian disusul dengan gempa bumi kekuatan 10 SR yang menyisakan sepuluh persen penduduk bumi. Karna sejatinya, semaju apa pun teknologi di muka bumi tidak ada yang bisa mencegah kejadian itu. Bencana alam yang sangat mematikan. Ada sebuah kalimat pada novel ini, bahwa alam menjaga keseimbangannya dengan caranya sendiri. (hal.33)

            Dan seperti yang tertulis pada sinopsis novel ini, bahwa terlepas dari betapa besarnya dampak dari gunung meletus skala 8 VEI dan gempa bumi dengan kekuatan 10 SR, sejatinya penulis akan mengisahkan tentang persahabatan, cinta, perpisahan, melupakan, dan tentu saja sesuai dengan judulnya yaitu tentang hujan.

            Dalam cerita ini, dimana Lail yang memang pemalu dan Maryam yang ceria menjadi sahabat sejati dalam hidup mereka. Tentang dua sahabat yang begitu besar semangatnya dalam menjalani permasalahan kehidupan setelah kejadian besar itu, kejadian yang memaksa mereka berpisah dengan orang-orang terkasihnya. Berawal dari teman sekamar yang berbicara tentang hobi, mimpi-mimpi, juga keinginan menjadi seorang relawan kemudian beranjut menjadi perawat. Keberanian-keberanian dalam persahabatan mereka menjadikan sepasang sahabat yang matang dan tangguh. Dengan persahabatan mereka yang begitu kuat, kita bisa mengambil banyak pelajaran-pelajaran dalam hidup mereka.

            Juga dikisahkan seorang gadis kecil berusia 13 tahun bernama Lail yang telah kehilangan Ayah Ibunya saat terjadi bencana alam, kemudian bertemu dengan sosok Esok, lelaki genius dengan mimpi besarnya menyelamatkan dunia.

            Selain bercerita tentang Lail dan Esok, buku ini juga menjadikan hujan sebagai tema sentra, menemani episode-episode mereka dalam melewati berbagai macam ujian kehidupan. “Dalam kehidupan Lail, hal-hal penting selalu terjadi saat hujan” (hal 37)

Ada sebuah kalimat yang sangat saya suka dan dibalik kalimat itu terdapat pesan yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

            “Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh, dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik malah justru membawa kedamaian” [halaman 255]

            Ini adalah pesan yang diberikan Maryam kepada Lail, saat Esok tak segera menghubunginya diwaktu genting. Waktu dimana banyak orang sangat serakah ingin menang sendiri dan mengabaikan keselamatan umat manusia. Disanalah Lail diuji kemudian akhirnya Esok memberikan jawaban yang tepat tentang makna kehidupan, menerima dan melepaskan.

            Novel ini mengajak kita semua untuk intropeksi diri dalam segala hal, tentang alam juga tentang hati. Kisah cinta Lail dan Esok yang tidak membuat galau tetapi membawa terapi juga metode dalam menyikapi berbagai masalah kehidupan.

Oleh : Hanis Mega Rukmana, S. Pd.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay