Pentingnya Mempunyai Rasa Malu

Sebagaimana kita ketahui bahwa sifat malu lebih identik kepada seorang wanita. Karena dengan mempunyai sifat malu tersebut dapat disimpulkan bahwa wanita tersebut adalah wanita yang shalihah, wanita yang mempunyai iman. Dikutip dari sebuah riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah Saw “……, Perhiasannya adalah rasa malu,…”,, ,Mengapa rasa malu itu dijadikan perhiasan? Karena rasa malu tidak akan mendatangkan sesuatu apapun kecuali kebaikan. Sebagaimana sabda nabi     “al-hayaa’u laa ya’tii illaa bikhairin”.

            Mengapa rasa malu dijadikan perhiasannya orang yang beriman? Karena malu itu adalah ketidaksukaan jiwa kita dari perbuatan yang jelek atau buruk. Artinya, apabila kita tidak ingin berbuat buruk terhadap orang lain maka kita termasuk orang yang mempunyai rasa malu. Jadi, rasa malu itu adalah akhlak yang bisa memberikan semangat kepada seseorang untuk melakukan yang ma’ruf dan meninggalkan yang Munkar.

            Sebagaimana sabda nabi “malu itu adalah cabang dari keimanan”. Dapat disimpulkan bahwa rasa malu itu adalah hal yang wajib dimiliki seseorang, sebab jika seseorang tidak mempunyai rasa malu berarti ia kehilangan cabang dari iman. Dan apabila cabang imannya hilang berarti mengakibatkan imannya tidak sempurna.

            Sebagai seorang wanita shalihah yang beriman, wajib kiranya  mempunyai rasa malu. Karena rasa malu adalah ciri khas orang-orang yang beriman. Bahkan Allah SWT pun malu apabila tidak mengabulkan doa seorang hamba apabila hambanya berdoa dengan menengadahkan kedua tangannya ketika meminta pertolongan.

            Simpulannya marilah kita berhias dengan rasa malu, sebagaimana sabda Rasulullah Saw “malulah kalian kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya malu, sebenar-benarnya malu itu adalah orang yang menjaga kepalanya dan apa yang terekam di dalamnya, menjaga perutnya dari yang dihimpunnya, dan mengingat kematian dan bahayanya. Dan barang siapa yang menginginkan akhirat maka tinggalkanlah perhiasan dunia, maka barang siapa yang menginginkan hal tersebut maka sungguh ia betul-betul malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu”.

Oleh : Napiatun, S.Pd.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay