Mama, Papa … Tolong aku!

Tahukah mama dan papa … aku sangat menantikan saat-saat aku dilahirkan ke dunia. Aku sangat bersemangat untuk melihat dunia seperti mama dan papa ceritakan setiap hari saat aku berada di dalam perut mama. Aku sangat tidak sabar menanti wajah cantik mama dan wajah tampan papa. Aku sangat penasaran merasakan hangatnya sentuhan mama dan papa pada punggung tanganku. Atau berbisik bahwa aku adalah hadiah dari Allah untuk kalian.

            Aku sangat ingin menikmati saat-saat mendengar kalimat-kalimat bahagia dan betapa bersyukurnya kalian akan hadirku. Dan aku sudah tidak sabar untuk belajar kata demi kata hingga aku akan berkata betapa aku sangat senang karena Allah menghadiahkanku orang tua seperti kalian. Aku bersyukur.

            Mama, papa ..setiap saatku bersamamu adalah hal yang paling menyenangkan yang Allah anugerahkan padaku. Aku kadang tak peduli betapa sakitnya lututku saat berlari mengejar bola bersama papa. Aku juga tak peduli rasa lapar pada perutku ketika mama lupa memberiku makanan karena asyik bermain petak umpet bersamaku. Aku sangat sayang mama dan papa. Aku bangga ketika melihat mata mama dan papa berbinar saat aku mampu melakukan hal baru. Aku sangat menyukai ketika mama dan papa mengelus rambutku sambil berkata “anak mama, papa sudah besar.” Aaaahhh, seandainya aku bisa merasakan kebahagiaan itu terus. Apakah mama dan papa berpikir hal yang sama?

            Aku sadar semakin hari aku semakin besar. Bertambah tinggi dan umurku. Aku sadar semakin hari aku dapat mengetahui banyak hal. Termasuk mengetahui berbagai macam bentuk perasaan. Bahwa di dunia ini tidak hanya ada rasa senang atau bahagia saja. Tapi ada juga rasa sedih, marah, cinta dan benci. Ups, setelah aku ingat-ingat dulu saat aku masih di dalam perut mama, aku mendengar suara yang sangat keras yang kini aku tahu itu adalah suara teriakan papa. Aku juga pernah dengar suara seperti isakan yang kini aku tahu bahwa itu suara tangisan mama.

            Kini aku sudah semakin besar hingga tahu bahwa ketika rasa sedih itu datang, aku, mama ataupun papa akan menangis. Rasanya seperti ada luka di dalam dada. Sakitnya seperti saat aku jatuh dan lututku terluka. Hanya saja sakitnya bukan di lutut melainkan di dada. Rasanya sesak sekali hingga air mataku tak bisa tertahan. Dan aku baru tahu rasa marah itu ketika dadaku terasa panas. Entah itu disebabkan oleh keinginanku yang tak terpenuhi atau hanya karena mama dan papa mengabaikanku. Hmm …sepertinya aku tahu semua rasa itu berasal dari hati. Sejak aku tahu hal ini, aku bertekad untuk memberikan hatiku banyak rasa cinta.

            Hingga suatu hari hatiku merasakan sakit lagi ketika aku melihat papa dan mama saling berteriak. Hatiku terasa perih saat ku melihat mama menangis dan membanting pintu dengan keras dan mengabaikanku. Hatiku seakan terluka saat papa juga pergi dan tak berkata apa-apa padaku. Aku bingung, tubuhku bergetar. Dan ku tahu aku baru saja merasa takut.

            Mama, papa tolong aku!

            Aku takut dengan sesuatu yang bahkan tidak ku mengerti. aku takut pa ..ma ..

Sejak hari itu, aku bahkan menjadi lebih takut. Aku takut bertanya pada papa apa yang sebenarnya terjadi? Aku takut bertanya pada mama, kenapa mama menangis? Aku bahkan takut tersenyum saat melihat papa dan mama tidak tersenyum padaku.

            Mama, Papa ..tolong aku!

            Jika kalian saling marah, boleh tidak jika melakukannya tidak di depanku? Jika kalian tidak saling menyapa, boleh tidak untuk tetap tersenyum kepadaku? Jika kalian sedang sedih atau terluka, boleh tidak untuk saling menyembuhkan? Jika kalian sedang merasa kesusahan, boleh tidak untuk saling berbagi di hadapanku? Agar aku tidak berprasangka buruk tentang kalian. Agar lukisan cantiknya mama dan tampannya papa tidak berubah dalam bayanganku. Agar rasaku terhadap kalian tidak pernah berubah.

            Tahukah kalian, sejak melihat kalian saling marah, saling berteriak ataupun bahkan saling melukai, aku menjadi sering cemas dan sekarang aku pun jadi tahu rasa depresi.

            Mama, Papa ..tolong aku!

            Kata Profesor C. Cybele Raver dari Universitas New York Steinhardt, jika aku sering melihat kalian bertengkar akan sulit untuk memproses emosiku. Sehingga aku rentan mengalami depresi maupun gangguan kecemasan. Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa dampak tersebut juga menyangkut neurobiologis, kognitif dan perilaku diriku.

            Mama, Papa ..

            Aku selalu berpikir bahwa rumah adalah tempat paling nyaman dan aman untukku. Namun, belakangan aku tidak merasakannya. Itu membuatku bingung. Alih-alih sibuk untuk membangun kepercayaan diriku, aku justru menjadi sibuk untuk mewaspadai dunia sekitarku. Aku berharap saat aku dewasa nanti, aku tidak takut untuk membangun kehidupan keluargaku sendiri. Aku berharap itu.

            Eamon McCrory, Ph.D dari Universitas College London pernah berkata bahwa “anak yang melihat orang tuanya bertengkar atau melihat ibunya mengalami kekerasan dalam rumah tangga di depannya ternyata memiliki pola otak yang sama dengan tentara medan perang.” Terdengar hebat ma, pa ..tapi tahukah kalian bahwa pola pikir seperti itu mengakibatkan perkembangan otakku terganggu. Pada usia 11 tahunku akan berdampak pada bagian cerebellums kecil yang berhubungan dengan regulasi stress pengembangan sensorik. Anak di usia tersebut tidak dapat sepenuhnya memproses situasi sosial yang kompleks. Ledakan emosional bisa memberi kenangan negatif jangka panjang pada diriku.

            Mama, Papa ..tolong aku!

            Saat aku besar nanti aku tidak mau menjadi anak yang tidak patuh pada dirimu. Aku tidak mau menjadi anak yang suka mengganggu teman-temanku. Aku tidak mau menjadi anak yang tidak bisa membanggakanmu. Saat aku tua nanti, aku juga tidak mau menjadi orang tua yang tidak bertanggung jawab. Aku ingin anak-anakku kelak mengenalku sebagai orang tua yang dapat memberi contoh baik kepada mereka. Karena aku mulai tahu, kejiwaan anak terbentuk 70-80% dari peniruan apa yang anak dengar dan saksikan. Ma, Pa ..aku tidak hanya butuh asupan pada jasmaniku saja. Tapi tolong beri aku nafkah batin yang baik. Nafkah batin itu dimulai dari mata dan telingaku. Maka bantu aku untuk menjaga asupan apa yang harus aku dengar dan lihat.

            Mama, Papa ..tolong aku!

            Aku ingin menjadi anakmu yang mencintaimu hingga wajah cantik dan tampanmu sudah dipenuhi dengan keriput. Hingga tangan dan kakimu tak mampu lagi menunjukkan kekuatannya. Aku ingin menjadi anak yang hingga panggilan Allah kepada ku ataupun kepadamu lebih dulu, aku telah menjadi anak yang membanggakanmu. Hingga Syurga-Nya.    

Oleh : Fitri Arissia Padillah. A.Md.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay