Setiap Ibu Memulai Peran dengan Kekurangannya Masing-masing

Ada yang sebelumnya tidak pernah sama sekali menyentuh anak kecil. Setelah memiliki anak, serasa gemetaran saat gendongan pertamanya. Serasa tidak ada bayangan bagaimana nanti mandikan bayinya sendiri. Lama-kelamaan tangannya semakin luwes. Kalau dibandingkan dulu awal-awal megang masih seperti robot karatan, sekarang sudah sehandal pemain sirkus profesional.

Ada ibu yang sebelumnya cuek sama sekali dengan urusan perdapuran. Jangankan tahu urusan bumbu-bumbu,membedakan garam dan gula saja kadang masih salah. Namun setelah memiliki anak semua berubah, satu dua resep MPASI mulai ia pelajari. Satu dua resep masakan dia buat agar tahu makanan kesukaan anaknya. Meskipun tiap mentok tetap saja andalannya masak sop dan telur, tapi dibandingkan dulu ia sudah banyak perubahan.

Ada ibu yang dulunya begitu panikan dan susah mengendalikan emosinya. Bayinya belok badan sedikit dia gupuh salah tulang. Ada barang-barang di rumah berantakan, ia kemrungsung seharian. Tiap kondisi anaknya tidak sesuai harapan, bukannya disampaikan dengan tenang, kadang ia marah-marah bahkan sering menangis karena tidak tahu bagaimana cara menghadapi anaknya. Perlahan ia mulai mempelajari emosi pasca menjadi ibu. Ia coba terus latihan mengontrol emosinya agar tidak menurun ke anaknya. Sedikit banyak ia kini sudah banyak berubah, dari yang dulunya bicara biasa seperti teriak, kini mulai bisa menyampaikan perasaannya dengan bertahap sekalipun itu adalah yang tidak menyenangkan.

Ada ibu yang dulunya tidak peka sekali dengan namanya beberes rumah. Kamar berantakan itu sudah biasa asalkan nyaman. Semenjak punya anak, terasa sekali kondisi rumah ternyata berpengaruh terhadap mood Ketika menemani anaknya. Kalau rumah berantakan, kacau lah juga mood ke anaknya seharian. Akhirnya pelan-pelan ia mulai belajar berbenah. Menyingkirkan barang-barang yang tidak perlu ada di rumah agar anaknya bisa bebas berlarian. Ia yang dulunya begitu semrawut, kini mulai tertata rapi.

Tiap ibu memulai perannya dengan kekurangannya masing-masing. Proses pembelajaran memperbaiki dirinya sungguh begitu panjang, seumur hidup. Lalu apa yang perlu disombongkan untuk saling menjatuhkan jika memang tiap ibu memulai semua dengan kekurangan masing-masing?

Oleh : Devi Eka Farah Azizah, S. Pd.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay