Mengapa Sekolah Seharusnya Lebih Rileks Urusan Tugas Akademis, Apalagi di Tengah Pandemi Corona

Pandemi Corona menimbulkan stress pada semua orang dewasa. Siapa korban lain yang jarang dibicarakan? Mereka adalah… anak-anak. Tanpa disadari, kecemasan orang tua menular pada anak. Kecemasan itu menular makin intens saat orang tua dan anak berkumpul di rumah selama 3 minggu.

Ingat, 3 minggu tidak sekolah itu baru arahan awal. Melihat trend Corona yang terus naik, bisa jadi waktu mereka di rumah akan lebih panjang. Artinya, tingkat stress orang tua dan anak juga akan meningkat. Jika orang dewasa bisa lebih survive menghadapi tekanan, hal yang totally berbeda terjadi pada anak, terutama anak yang memiliki kepekaan tinggi. Jika orang tua paham punya anak dengan tipe kepekaan tinggi, maka ayah dan bundanya memutuskan untuk membebaskan TOTAL mereka dari tugas sekolah, dan mengarahkan mereka pada eksplorasi hobi atau apapun yang membuat mereka happy.

Apa yang bisa dilakukan sekolah untuk menekan stress anak? Dengan mengurangi tugas harian dan mendorong mereka menghabiskan waktu dengan keluarga, menulis jurnal harian perasaan mereka hari itu, dokumentasi aktivitas, eksplorasi hobi, baca buku fiksi, nonton film, atau aktivitas lain yang membuat mereka happy. Hal-hal yang selintas terlihat “Ngga sekolahan banget” tapi sesungguhnya merangsang kreativitas anak, melatih berpikir terstruktur dan menimbulkan rasa tenang di hati.

Mungkin, sebagian kunci pendidikan adanya di sini. Pada kemampuan merangsang kreativitas anak, melatih berpikir terstruktur dan practicing mindfulness. Bukan diberi tugas sekolah yang bejibun dan abai dengan ketenangan jiwa.

Mental sehat itu penting. Tidak hanya untuk orang tua dan anak, tapi juga para guru. Saya yakin, guru pun dalam kondisi tertekan sekarang. Mereka juga butuh rileks, bersantai dengan keluarga dan lepas sejenak  dari berbagai tekanan dan kewajiban sekolah.

Percayalah, melambat sejenak tidak akan membuat kita tertinggal. Seluruh dunia sekarang sedang melambat, kita tidak sendirian. Institusi sekolah dan para penggerak pendidikan harus paham strategi ini. Disebut strategi karena melambat dalam konteks ini,  bukan semata efek atas kondisi dunia, tapi sebuah langkah yang diambil dengan penuh kesadaran, untuk nantinya bisa bergerak lebih cepat.

Oleh : Ahmad Saifuddin, S.Si.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay