From Crisis to Crisis

Tahun ini mungkin sebagian orang akan menganggap sebagai tahun yang penuh duka, dari bencana alam, kehilangan tokoh dan public figure, hingga yang saat ini sedang ramai menjadi topik bahasan seantero dunia, pandemic virus corona.

Tunggu, di awal saya menulis hanya “sebagian”, itu berarti tidak semua menganggap tahun ini sebagai tahun yang buruk. Memang benar, tidak pernah Allah menjadikan suatu waktu yang akhirnya akan menjerumuskan ummatnya, walaupun kita harus mengikuti anjuran pemerintah dengan menjaga jarak, bukan berarti Allah memutus silaturahim ummatnya, nyatanya teknologi saat ini tetap mampu menghubungkan kita dalam kondisi jarak jauh.

Anjuran beribadah jamaah untuk umat Islam yang ditiadakan, bukan berarti Allah tidak menginginkan ummatnya untuk jauh dariNya, dari sunnah ke sunnah ketika sholat tidak bisa dilakukan berjamaah di Masjid/Mushola, sesuai tuntunan nabi yang pernah dilakukan dulu di masanya kita bisa melakukannya di rumah masing-masing bersama keluarga.

Ya, itu sekelumit hal yang bisa kita lakukan untuk menghadapi suatu kondisi. Yakni mengubah sudut pandang kita, bahwa yang terbaik itulah yang sudah Allah putuskan kepada ummatnya. Atau bisakah kita mengubah sudut pandang kita untuk terus mengevaluasi diri dengan ibadah kita selama ini, hubungan dan kita dengan Allah dan manusia, atau sebagainya?

Menyangkut dampak dari pandemic ini adalah bukan secara hubungan sosial saja, mulai dari bisnis yang merosot, kurs mata uang dunia melonjak, ekonomi mulai kacau, PHK dan pengurangan karyawan di sektor pekerjaan, segala aktivitas sosial ditiadakan dan lain sebagainya. Inilah yang disebut masa krisis dimana segala kebutuhan hidup yang selayaknya kita perlukan kini sudah mulai susah didapatkan, semua orang mulai menjaga dirinya masing-masing bagaimana bisa bertahan hidup.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah jangan sampai kita malah terlalu asyik mempersiapkan dunia dengan segala ketakutan yang akan terjadi, asyik mempersiapkan dunia malah meninggalkan kenikmatan-kenikmatan di akhirat yang seharusnya kita dapatkan. Bisa jadi kondisi ini akan menjadi lebih berbahaya dibanding virus pandeminya, yakni penyakit Wahn. Terlalu mempersiapkan dunia, menakutkan kematian dan akhirnya menjangkiti iman dan aqidah terhadap Allah SWT. Mungkin kelihatannya sehat, tapi dalam hatinya terbesit keinginannya mengejar dunia saja. Naudzubillah, jika di akhirat nanti kita terhinakan. Semoga kita semua mendapat perlindungan dari segala macam penyakit, baik pandemi yang saat ini sedang merebak, maupun segala penyakit hati yang memang harus kita hindari.

Dari krisis ke krisis, sadarkah kita telah melewati ini dalam fase hidup kita. Dari masa anak-anak ke remaja, dari masa remaja ke dewasa, hingga memasuki dunia mengatur tatanan keluarga, hingga keluar ke masyarakat bersosialisasi dengan peran kita di sana. Kita akan menemui suatu masalah yang baru, untuk memasuki fase yang baru juga. Semakin meningkat.

“Krisis” sederhana yang saya gambarkan pada fase hidup kita adalah ketika kita punya ekpektasi yang tidak sesuai dengan realita. Belajar dari sana kita bisa belajar bagaimana kita bisa banget dari krisis;

Pertama, yang harus kita lakukan adalah “set prioritas”. Prioritaskan hal hal yang memang pantas untuk diperjuangkan di masa krisis ini, jika ada hal yang memang harus dikorbankan demi kelangsungan hidup dan kebahagiaan, lepaskan. Atur kembali segala hal yang memang harus kita kerjakan, jangan sampai larut dan mengeluh pada keadaan. Alangkah baiknya ketika kita mampu mencatat dalam checklist, disini bukan berari hal yang harus kita penuhi dan menyesal ketika hal yang harus kita kerjakan tidak sesuai dengan kenyataan. Justru akan menjadikannya sebagai hal krisis juga, checklist disini adalah memastikan kita berada pada jalur apa-apa yang harus kita kerjakan untuk bangkit dari krisis.

Kedua, tidak membandingkan hidup kita dengan orang lain, jangan membuat orientasi apalagi berdasarkan pilihan orang lain, hidup bukan tentang kita dengan penilaian dan perbandingan kita dengan orang lain saja.

Ketiga, memaknai peran-peran kita di keluarga, peran kita di masyarakat bagaimana  menjadikan semuanya ini mengalir dengan usaha dan tawakal kepada Allah SWT.

Terakhir, pasrahkan semuanya kepada Allah setelah kita berusaha untuk bangkit dari krisis. Jadikan momentum krisis ini sebagai milestone (batu loncatan) yang bisa membawa ke kehidupan yang lebih baik lagi, krisis tidak akan menjadikan kita stress bila kita mampu memanage semuanya dengan baik.

Percayalah bahwa rencana Allah sudah pasti yang terbaik, jangan sampai kondisi ini menjadikan kita patah semangat dalam berikhtiar dan berdoa, hasil terbaik pasrahkan saja kembali pada Allah, Kesulitan akan menjadi peluang baru menuju pada kebahagiaan. Dalam Al Quran disebutkan;

“ Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,
sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.
Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan),
tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),
dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.
(Asy Syarh: 5 – 8)

Oleh : Aji Gunawan

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay