Kegagalan Seorang Guru

Guru adalah pelaku utama dalam kegiatan transfering keilmuan dengan anak didik sebagai objeknya, baik langsung ataupun tidak langsung. Namun, apakah akan selesai di situ saja? Tentu saja tidak. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam pembelajaran. Peserta didik memerlukan peran seorang guru untuk membantunya dalam proses perkembangan diri dan pengoptimalan bakat dan kemampuan yang dimiliki peserta didik.

Berikut ini adalah beberapa kelalaian baik yang disadari atau tidak oleh seorang guru ketika melakukan kegiatan belajar mengajar.

  1. Ingin Ditakuti

     Sikap ini masih banyak dilakukan oleh para guru sebagai bentuk sikap yang secara tidak langsung telah mengajarkan kediktatoran pada peserta didik. Lalu dampak paling parahnya bisa membunuh karakter seorang anak, serta menjadi awal mula munculnya latar belakang sikap pembangkangan dan pemberontak pada seorang anak.

  • Materialisme Kurikuler

     Materialisme kurikuler adalah suatu keadaan pembelajaran dimana mau tidak mau semua materi pelajaran harus tersampaikan sesuai dengan ketentuan kurikulum. Dengan kata lain, guru tidak mau tahu terhadap kapasitas intelektual peserta didik yang cenderung berbeda tetapi diperlakukan sama dalam hal ketercapaian materi pembelajaran.

     Sederhananya, materi satu semester harus tersampaikan tanpa memperhatikan hal yang bisa diterima peserta didik atau tidak. Sehingga keadaan yang terjadi adalah guru merasa tugas mengajarnya sudah selesai padahal banyak peserta didik yang tidak paham atas materi yang disampaikan.

  • Budaya Tunjuk Alias Menyuruh

     Banyak guru yang mengajarkan disiplin akan tetapi guru tersebut tidak disiplin.  Mengajarkan kerapian tapi guru tidak rapi, dan sebagainya. Sederhananya, guru demikian akan kehilangan respon dari peserta didik karena yang utama dari sistem pendidikan itu adalah budaya memberi contoh, bukan budaya menyuruh.

  • Gagal Mendeteksi dan Mengarahkan Anak Sesuai dengan Bakatnya

     Hal ini sebenarnya menjadi salah satu jargon unggulan profesi guru. Tetapi hanya segelintir dari sekian banyak siswa yang benar-benar diarahkan sesuai dengan kebiasaannya. Dan biasanya guru hanya bisa mendeteksi terhadap kebiasaan-kebiasaan yang mudah diarahkan, tetapi kebiasaan-kebiasaan yang terpendam seperti anak yang pendiam dan terlihat tidak menonjol di kelas biasanya akan terabaikan.

Terkait identifikasi kelebihan siswa, sedikit tips yang bisa dibagikan agar kita bisa mengarahkan bakat siswa, yaitu :

1. Bakat tidak akan jauh dari kesukaan

2. Bakat tidak akan jauh dari kebiasaan

3. Dilakukan terus menerus tanpa ada paksaan.

Sebagai guru, kita harus bisa mencari benang merah antara kebiasaan dan kesukaan yang dilakukan secara konsisten oleh siswa dengan hal yang bisa memunculkan bakatnya. Misalnya, apa yang bisa dilakukan guru untuk mengarahkan bakat yang sesuai pada anak yang suka menyendiri dan merenung?

Alur penjelasannya yaitu: kegiatan merenung identik dengan imajinasi, suka imajinasi biasanya penuh khayalan dan fantasi. Imajinasi dan fantasi adalah modal utama menjadi pengarang fiktif selama dia mau mencurahkan isi fantasinya ke dalam bentuk tulisan. Kesimpulannya adalah anak yang suka merenung sudah punya modal menjadi seorang penulis hebat, baik novel, cerpen, puisi, dan sebagainya.

Oleh : Anis Rizkiyatul Jannah, S.Pd.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay