Santun dan Menghargai Teman

Santun berarti halus budi, baik bahasa, dan sopan tingkah lakunya. Orang santun biasanya memiliki sifat sabar, tenang, sopan, dan rendah hati. Sedangkan, menghargai berarti menghormati. Orang yang tidak menghargai berarti orang yang meremehkan atau tidak peduli terhadap orang lain. Seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an Surah al-Hadiid ayat 9 yang berbunyi:

هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ.

“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al Qur’an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu”.

          Adapun beberapa contoh sikap santun dan menghargai teman, yaitu:

  1. Mengucapkan salam, selalu memperhatikan, dan bermuka manis seperti berseri-seri saat bertemu dengan orang lain. seperti hadis Rasulullah SAW:

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَقَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ عَامِرٍ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ أَتَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ فَقَالَ لِي إِنَّ أَوَّلَ صَدَقَةٍ بَيَّضَتْ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوُجُوهَ أَصْحَابِهِ صَدَقَةُ طَيِّئٍ جِئْتَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ishaq; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Mughirah dari ‘Amir dari ‘Adi bin Hatim dia berkata; “Saya pernah berkunjung kepada Umar bin Khaththab, maka dia berkata kepada saya; ‘Sesungguhnya sedekah pertama yang membuat wajah Rasulullah dan para sahabat berseri-seri adalah sedekah kabilah Thayyi’ yang kamu bawa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim).

  • Berbicara dengan lembut dan tenang, suara tidak terlalu keras dan tidak menyakitkan, serta sabar mendengarkan teman berbicara. Hindari kata-kata kasar, keras dan kotor yang dapat menyakiti perasaan orang lain.
  • Peduli terhadap keadaan teman dan suka menolong kesulitannya. Apabila ada yang sakit atau terkena musibah, usahakanlah untuk menjenguknya.

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ الرَّبِيعِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْأَشْعَثِ بْنِ سُلَيْمٍ قَالَ سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ سُوَيْدٍ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَمَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ فَذَكَرَ عِيَادَةَ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعَ الْجَنَائِزِ وَتَشْمِيتَ الْعَاطِسِ وَرَدَّ السَّلَامِ وَنَصْرَ الْمَظْلُومِ وَإِجَابَةَ الدَّاعِي وَإِبْرَارَ الْمُقْسِمِ.

Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Ar Rabi’ telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Asy’ats bin Sulaim berkata, aku mendengar Mu’awiyah bin Suwaid aku mendengar Al Bara’ bin ‘Azib radliallahu ‘anhuma berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara pula”. Maka Beliau menyebutkan: “Menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, membalas salam, menolong orang yang dizholimi, memenuhi undangan dan berbuat adil dalam pembagian”. (HR. Bukhari)

  • Berteman tanpa pilih kasih. Bersahabat dan bermain dengan siapa saja, tidak memandang orang tersebut kaya / miskin / normal / cacat / cakap / buruk / bangsawan / rakyat jelata dan sebagainya.
  • Tidak mencela dengan perkataan yang buruk.
  • Rendah hati dan bisa menerima dengan hati yang tulus atas kerja temanmu.
  • Mengucapkan “terimakasih” kepada teman yang telah membantu.
  • Mengucapkan “minta maaf” kepada teman jika kita bersalah atau menyinggung perasaan dan sebagainya.
  • Tidak mengambil hak orang lain dan menguasainya dengan cara mencuri, merampas, atau berdusta.
  • Memberikan ucapan selamat, sanjungan dan pujian secara langsung kepada teman yang berprestasi.

Perilaku lembut dan santun yang dilakukan Nabi Muhammad SAW merupakan prinsip utama bagi siapapun yang mengaku mukmin dan berharap memperoleh keridlaan Allah. Sikap terpuji beliau yang tak pernah membentak ketika menyikapi seseorang adalah akhlak utama yang wajib diteladani. Perilaku lemah lembut dan santun merupakan jalan pembuka kebaikan-kebaikan.

Adapun kemuliaan tidak datang dari pangkat, jabatan, dan harta. Pangkat dan jabatan mengenal pensiun, sementara harta akan habis. Kemuliaan akan datang dengan sendirinya, secara otomatis, berdasarkan penilaian orang lain kepada kita atas semua kebaikan yang dilakukan. Bersikaplah santun, dermawan, rendah hati, dan berakhlaq mulia kepada sesama tanpa kecuali.

Kecenderungan manusia secara alamiah adalah keinginan untuk mendapat tanggapan atau penghargaan atas apa yang dilakukannya. Kebutuhan untuk menuangkan ekspresi diri secara positif telah mendorong setiap orang untuk terus menghasilkan karya terbaik demi kebaikan dirinya dan orang lain.

Oleh karena itu, menghormati dan menghargai hasil karya orang lain harus dilakukan tanpa memandang derajat, status, warna kulit, dan pekerjaan orang tersebut karena hasil karya merupakan pencerminan dari pribadi seseorang.

Islam mengajarkan agar saling menghargai satu sama lain. Sikap menghargai terhadap orang lain tentu didasari oleh jiwa  santun yang dapat menumbuhkan sikap menghargai orang. Kemampuan tersebut harus dilatih lebih dahulu untuk mendidik jiwa manusia sehingga mampu bersikap penyantun.

Misalkan, ketika bersama-sama menghadapi persoalan tertentu, seseorang harus berusaha saling memberi dan menerima saran, pendapat, atau nasihat dari orang lain yang pada awalnya pasti akan terasa sulit. Sikap dan perilaku ini akan terwujud bila pribadi seseorang telah mampu menekan ego pribadinya melalui pembiasaan dan pengasahan rasa empati melalui pendidikan akhlak. Selanjutnya, ia akan selalu terdorong untuk berbuat yang baik kepada orang lain.

Oleh : Fitria Ramadhaningrum, S.Ag.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay