Pelajaran Berharga

Bu maaf agak lama, soalnya saya diputar-putar nih sama google map’. Ujar seorang perempuan di ujung telepon. Oh, ternyata driver taxi online saya adalah seorang wanita. Seperti biasa saya selalu mengandalkan transportasi online untuk mobilitas harian. Maklumlah saya tidak bisa berkendara, tapi tidak menghalangi untuk tetap beraktivitas. Seperti siang itu, saya baru mengantar anak saya yang akan mengikuti kegiatan student camp di sekolahnya.

            Setelah memberi sedikit guidance ke ibu driver online, tak lama datanglah kendaraan yang saya tunggu. Segera saya masuk dan duduk di bangku penumpang. AC mobil lumayan memberi kesejukan dari udara panas di luar. Musim kemarau masih betah untuk singgah di Bali. Padahal sudah bulan November, seharusnya kemarau sudah berganti dengan penghujan.

            “Maaf ya bu nunggu lama, ini lhoo saya dari tadi diputar putar sama maps”, katanya mengulang penjelasan keterlambatan menjemput. ‘Tidak apa-apa Bu, santai saja” jawab saya sambil tersenyum memaklumi. Si ibu driver ini sangat ramah, berpotongan rambut cepak, bertubuh sedikit gemuk dan sepertinya berusia sekitar akhir 30-an atau 40-an.

            Siang itu sepanjang perjalanan pulang, percakapan mengalir tentang berbagai hal. Lumayan daripada bengong di jalan. Kemudian percakapan bergulir tentang alasan saya resign dari pekerjaan untuk mengurus suami dan anak-anak. Apalagi saya dan suami pernah berjauhan karena saya dimutasi ke Jakarta sementara suami bekerja di Bali.

            “Ya memang harus begitu Bu, kalo sudah keluarga kan enakan bareng. Kalo jauh-jauhan kan repot ya. Lagian kan enak kalo kayak gini ibu ngurus rumah, suami yang kerja. Kalo kayak saya harus kerja cari uang sendiri Bu”, Kata si ibu driver.

            “’Alhamdulillah saya bisa nyetir mobil seperti ini, jadi masih bisa kerja. Saya kan disabilitas Bu. Tangan kanan saya cacat dari lahir”, katanya sambil menunjukkan tangan kanannya.

            Sejenak saya terkesiap. Ya Allah, tangan kanan si ibu ukurannya sepertiga dari ukuran tangan normal, dengan ujung mengecil dan terlihat seperti bakal jari-jari yang tidak tumbuh dengan sempurna.

            “Bersyukur, ibu saya selalu support. Dari kecil saya sekolah di sekolah umum. Sampai SMEA saya juga sekolah umum. Kalau bapak saya mah ninggalin saya dari umur 3 bulan karena saya lahir cacat. Tapi saya gak pernah minder, saya gak putus asa. Alhamdulillah masih bisa mencari uang sendiri. Yang penting halal’.

            Sambil si ibu bercerita, saya hanya mendengarkan. Speechless. Ya Allah betapa banyak nikmat yang telah Engkau berikan kepada hamba, yang kurang hamba syukuri. Pertemuan dengan si ibu driver seolah memberi pelajaran saya untuk lebih bersyukur.

            ‘Bu, ini belok kanan sini ya?’ tanya si ibu menyadarkan saya dari lamunan. Tak terasa mobil sudah sampai di depan rumah saya. Sambil keluar dan mengucapkan terima kasih, dalam hati saya bersyukur atas pertemuan ini dan berdoa semoga Allah memberi kesehatan dan kelapangan rejeki buat si ibu driver taxi online.

Oleh : Bunda Aisyah (Kelas II Diponegoro)

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay