Berkatalah yang Baik atau Diam

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Allah menciptakan manusia dengan lisannya untuk berkata yang baik atau diam. Tidak ada pilihan yang ketiga. Lisan adalah salah satu anggota tubuh yang kelak akan ditanyakan apa saja kata-kata yang diucapkannya karena semua itu akan tercatat dalam buku catatan amal oleh Malaikat. Dalam hadits disebutkan bahwa jika kita beriman kepada Allah dan hari akhir kita harus senantiasa bisa menjaga lisan untuk tetap berkata baik, jika tidak bisa maka diamlah.

Lisan merupakan media penyampai. Penyampai atas apa yang ada di dalam hati dan dalam pikiran seseorang. Dalam kehidupan sosial kita, dengan keluarga, teman, dan masyarakat umum, dapat kita perhatikan bagaimana kepribadian seseorang dari kata-kata yang diucapkannya.

Jika hati sedang bahagia maka yang terucap adalah kata-kata yang enak didengar dan lawan bicara senang pun bisa ikut merasakan kebahagiaan. Namun, jika seseorang sedang marah tidak jarang kata-kata kasar dengan nada keras yang terucap dan orang mendengarkannya pun akan merasakan aura kemarahan yang tak jarang memancing kemarahannya juga. Karena betapa dasyat kata-kata, mampu menyenangkan dan sekaligus menyakiti perasaan, hendaklah bijak dalam mengelola lisan. Tak jarang kita dengar, berpikirlah dulu sebelum berucap.

Kata-kata yang terangkum dalam sebuah bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain akan menunjukkan bagaimana kondisi hati dan pikiran seseorang, maka disebutlah juga bahwa lisan adalah cermin dari bagaimana kepribadian dan akhlak seseorang.

Ada 3 jenis karakter manusia yang bisa kita lihat kualitas akhlaknya dari tutur katanya:

  1. Jika baik tutur katanya dalam keadaan apapun, dalam keadaan tenang maupun sedang marah. Maka memperlihatkan bahwa orang tersebut menjaga dan terjaga akhlaknya. Bukan perkara mudah agar tetap bisa tenang dan bijaksana dalam berbagai keadaan. Tapi bagaimana seseorang benar-benar memahami hakikat pertanggungjawaban kelak di hari akhir atas kata-kata yang keluar dari lisan.
  2. Jika baik tutur katanya dalam keadaan tenang namun buruk ketika sedang marah, maka memperlihatkan bahwa orang tersebut belum dapat menjaga akhlaknya. Kondisi marah seringkali membuat seseorang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Marah yang tidak terkendali bukan hanya merusak jiwa tapi juga mampu merusak hubungan baik kita dengan orang-orang di sekitar kita.
  3. Jika buruk tutur katanya dalam keadaan apapun, maka memperlihatkan bahwa orang tersebut abai dalam menjaga hati dan pikirannya, mengabaikan pentingnya akhlak yang mulia. Komentar negatif, menggunjing, merendahkan orang lain menjadi hal biasa yang akan dilakukan manusia dengan karakter yang ketiga ini.

      Perilaku seperti ini wajib kita waspadai. Abainya kita terhadap kualitas dan kuantitas ibadah dan renggangnya hubungan kita terhadap Rabb kita akan sangat mungkin menjadikan kita seseorang yang abai dalam menjaga lisan dan akhlak kita.

Dari ketiga jenis karakter tersebut dapat kita nilai termasuk ke dalam jenis yang manakah diri kita. Keadaan yang membuat seseorang mampu marah adalah keadaan yang akan mengundang respon spontan, sehingga reaksi kita terhadap sesuatu ketika marah adalah cermin sesungguhnya. Mampukah kita tetap berbicara baik ataukah diam, seperti yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan?

Wallahu a’lam bis-shawab

Oleh : Aprilia Putri Mariana Dewi, S.E.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay