Kita Adalah Apa yang Ada dalam Pikiran Kita Sendiri

Pikiran merupakan faktor utama untuk menentukan potensi yang ada pada diri kita sendiri. Pikiran – pikiran yang lahir dari otak mengendalikan dan menentukan hampir semua yang terjadi pada diri kita. Pikiran kita dapat menaikkan atau menurunkan detak jantung, mengubah komposisi darah, dan menentukan kita dapat tidur nyenyak semalaman atau tidak.

            Pikiran dapat membuat kita siaga dan waspada sekaligus terganggu dan tertekan. Pikiran kita juga dapat membuat kita merasa tenang sekaligus cemas tak tertahankan. Menurut survey dalam salah satu studi kesehatan, 90 % penyakit berasal dari pikiran sedangkan 5 % dari pola makan, dan 5 % dari imun tubuh. Ini membuktikan bahwa pikiran membawa dampak besar dan menentukan  akan menjadi apa kita nantinya.

            Pikiran dapat mendorong terbentuknya berbagai gambaran diri kita. Termasuk berbagai emosi yang menyertainya. Jika berpikiran negatif terhadap diri kita sendiri maka orang lain akan menganggap hal yang serupa. Selain itu, pikiran kita tentang seseorang atau situasi juga bisa sangat mempengaruhi sikap kita kepada orang tersebut. Intinya segala hal yang kita percayai dengan penuh keyakinan, akan menjadi kenyataan. Apapun yang kita percayai tentang diri kita, secara nyata akan menjadi apa yang kita pikirkan.

            Seringkali kita sebenarnya tidak mempercayai apa yang kita lihat. Tetapi, senantiasa melihat apa yang selama ini kita percayai atau yang ingin kita percayai. Kemungkinannya ada dua, kita memiliki kepercayaan – kepercayaan yang menunjang kehidupan yang membuat kita merasa bahagia dan optimis atau kita bisa memiliki kepercayaan – kepercayaan negatif tentang diri dan potensi kita yang berlaku sebagai penghalang dalam pencapaian kita.

            Jika saat ini kita merasa sering memandang rendah diri kita sendiri, minder, tidak percaya diri, maka sudah seharusnya kita mengubah konsep diri kita tersebut. Kita harus mengubah apa yang telah kita pecayai tentang diri kita secara negatif. Apa yang kita percayai tidak selamanya harus berdasarkan fakta – fakta. Kepercayaan justru kebanyakan hanya berdasarkan informasi – informasi yang kita peroleh dan kita terima dari berbagai sumber yang ada yang belum tentu kebenarannya.

            Langkah untuk menghilangkan keyakinan yang membatasi diri ini dimulai dengan proses pembebasan potensi diri kita sendiri. Caranya dengan mempertanyakan kembali keyakinan – keyakinan yang telah terbentuk yang sifatnya membatasi potensi diri kita sendiri. Selanjutnya bayangkan bahwa keyakinan negatif itu tidak benar atau belum tentu benar. Bayangkan bahwa kita dapat menjadi, atau melakukan, atau memiliki apapun yang benar – benar kita inginkan.

            Kualitas konsep tentang diri kita akan menentukan kualitas hubungan sosial kita dengan orang lain. Semakin kita menyukai dan menghargai diri kita sendiri, maka kita akan cenderung menghargai dan menghormati orang lain. Dengan begitu, orang lain akan merasa nyaman berada di lingkungan sekitar kita.

Oleh : Wahyu Budy Prasetyo

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay