Menanamkan Kebaikan Sejak Dini, Bagaikan Mengukir di Atas Batu ” Pembentukan karakater”

Sebut saja namanya “Atiq” anak yang masih berumur 4,5 tahun. Dia Baru 3 bulan masuk TK A  Sekolah Mutiara. Dia seperti teman-temannya yang lain, senang bermain, lari-larian, dan masih senang bercerita tentang hal-hal yang dia lewati selama di sekolah. Kadang-kadang di sepanjang perjalanan menuju sekolah, Abi dan Umminya disuguhkan dengan cerita dan unek-unek yang terkadang ummi dan abinya tidak memahaminya. Namun, Ummi dan Abinya selalu menjadi pendengar setia dalam cerita panjangnya.

            Di tengah perjalanan Atiq terkadang melihat hal-hal bertentangan dengan apa yang dia fikirkan,” Abi, itu kenapa membuang sampah sembarangan ya, padahal kata ustadzah membuang sampah tidak boleh sembarangan, nanti tidak disayang Allah,” Menyahut seketika saat melihat ada sampah yang tiba tiba jatuh dari jendela mobil.

            Suatu ketika juga ” Abi, Abi…Abiii” dengan nada yang semakin gemes karena abinya masih melantunkan Surat An Naba’ sambil mengendarai motornya, namun Abinya harus menjawab sahutan itu. Baru dia berhenti memanggil Abi kemudian menyahut” Orang itu tidak punya baju, ya?, mengapa tidak menutup aurat?,” kata Ustadzah kita harus menutup aurat” seketika bertanya saat melihat seorang bule lewat di depan nya,

            “InsyaAllah nanti kalau Atiq sudah berumur 5 tahun Abi jelaskan ya” Abinya menjanjikan jawaban karena Abinya bingung harus menjawab apa. Tidak berbeda dengan hari-hari sebelumya. Selalu menghiasi hari-hari ummi dan Abinya dengan pertanyaaan dan cerita panjangnya. Hal yang berbeda hari itu, Atiq tidak sekolah seperti hari Senin sampai Kamis, karena setiap hari Jumat dia sekolah setengah hari.

            Sepulang sekolah Dia dibawa oleh Abinya ke sekolah tempat umminya  mengajar. Sesampainya di sekolah dia langsung mencari umminya dan berpamitan kepada Abinya. Setelah sampai di ruangan umminya Atiq mengucapkan salam kemudian berjabat tangan kepada ummi dan teman-teman Umminya yang ada di ruangan tersebut.

            Saat itu, umminya ingin merebahkan kepala di ruangan guru karena umminya hari itu kurang sehat. Namun, Atiq meminta ijin untuk membeli es krim dan Atiq pun membeli sendiri di kantin sekolah tempat umminya mengajar.

            Setelah Atiq kembali dia pun  duduk di samping umminya seraya berkata…” Ummi tolong bukakan Es krim ku,” sambil memberikan es krim yang baru saja dibeli. ” Oh ya, mari ummi bantu” jawab Umminya. Selesai eskrimnya dibuka umminy pun memberikan es krim tersebut, seraya  memesan kepada Atiq, “Anakku….Tolong, nanti jika sudah selesai makan, tolong diletakkan sampah bekas es krimnya  di dalam kantong plastik ini.

            Selesai Atiq makan eskrimnya, dia pun meletakkan sampah bekas es krimnya di kantong plastik sesuai dengan pesan umminya.

            Setelah itu, Atiq mengambil buku dan pensil, seperti yang biasa dia lakukan di rumah. mengisi waktu luangnya dengan menulis buku gambar dengan tulisan angka, 1-10, dan menulis namanya sendiri atau menulis nama teman dekatnya di kelas. Karena di TK A , Atiq baru diajarkan menulis angka 1-10 dan namanya sendiri.

            Namun, disaat Atiq asyik dengan pensil dan bukunya. Seorang guru teman umminya menghampiri Atiq, dan berkata kepada Atiq..” Atiq ini sampahmu bukan?” Sambil menatap Atiq dengan tatapan tajamnya.

            “Iya, itu sampah bekas minum es krimku tadi” menjawab dengan gaya bicaranya, dan dengan suaranya yang khas.

            ” Ayo kamu buang di tempat sampah” dengan nada yang tegas.

            “Kata ummiku, aku disuruh tunggu sampai ummi kubangun.”

            “Tidak apa-apa, kamu buang saja sana” menegaskan kembali kepada Atiq.

            “Kata ustadzahku, Aku harus mendengar perkataan Ummi ku” jawab Atiq.

            “Sama kan , kalau kamu buang sekarang, atau nanti?” menekan kembali Atiq untuk            segera membuang sampahnya.

            “Tapi kata ustadzahku, nanti kalau aku tidak mendengar kata-kata ummiku, Allah tidak memasukkan ku ke surga” jawab Atiq. Ibu itu pun, terbengong dengan jawaban Atiq, sambil dia memegang kepalanya lalu megang dadanya dan meninggalkan Atiq.

            Karena pembicaraan dengan Ibu dan Atiq tadi, umminya pun terbangun, seketika Atiq meminta ijin kepada uminya “Ummi, Aku boleh tidak buang sampah ini, sekarang “tanya Atiq sambil mengangkat plastik sampah tersebut.

            Iya boleh anakku” jawaba umminya.

Atiqpun membuang sampahnya di tong sampah depan sekolah.

The end

Memetik hikmah dari cerita di atas, antara lain :

  1. Kebaikan yang tertanam sejak dini akan tertanam kuat dalam diri anak-anak sehingga memberikan respon terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai tersebut.
  2. Karakter peserta didik sudah nampak sejak dini, dan akan menjadi kepribadian jika frekuensi dari nilai-nilai itu terus ditingkatkan.
  3. Masya Allah, Anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya menjadi dambaan semua orang tua, sehingga mereka menjadi lentera dalam pusara nanti.
  4. Guru yang hebat akan melahirkan generasi-generasi pemimpin masa depan.

Oleh : Al ‘Anshori, S.Pd.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay