Dunia Tanpa Maya

          Hari ini sedikit berbeda daripada hari biasanya. Dimulai dengan keputusanku untuk tidak membawa handphone genggam ke tempat kerja. Seakan aku ingin memberi kesan baru untuk hari ini. Dalam prediksiku, hari ini akan menjadi hari yang membosankan, sepi, kaku, bahkan kukira rasa khawatir akan terus menghantuiku karena mungkin ada beberapa chat penting yang masuk namun belum kujawab. Dengan ditemani oleh kegiatanku di sekolah memberanikan diri untuk pergi tanpa handphone. Ketika dalam perjalanan aku masih belum menemukan perbedaan dari hari sebelumnya.  “Ah, sama saja” gumamku dalam hati sambil melihat jalanan yang mulai meramai.

      Niat awalku untuk tidak membawa handphone ke tempat kerja adalah agar aku bisa lebih fokus lagi ketika melakukan kegiatan apapun itu. Karena jujur ketika handphone berada di genggaman, daya tariknya lebih kuat daripada seseorang di sekeliling kita. Kemudian pada pukul delapan aku memulai aktivitas, ternyata aku mulai merasakan sedikit perbedaan. Anak-anak menjadi pusat perhatianku.  Permainan demi permainan aku mainkan bersama anak-anak, yang kemarin hanya kuanggap anak kecil dimana kita tidak pantas untuk ikut masuk di dunia mereka, kini begitu senang saya ikut bermain dengan mereka.

      Ketika waktu istirahat tiba, aku mencoba mengubah kebiasaanku, yang kemarin kuhabiskan dengan asyik bercengkrama dengan layar handphone, sekarang aku memilih menggambar (karena memang tak bawa handphone ). Teman-teman mulai mengajakku mengobrol, benar ternyata, aku merasakan sensasi yang berbeda. Obrolan yang kemarin hanya sekedar basa-basi kini kian hidup dan berisi.

      Matahari mulai meninggi waktu pun telah menunjukkan pukul satu siang tanda bahwa anak-anak mulai keluar sekolah. Aku mulai mengambil alat-alat untuk membersihkan kelas mereka. Kami (aku dan teman-temanku) berjalan sambil bercanda tanpa beban memasuki kelas. Dan aku mengerti bahwa inilah duniaku yang asli, dunia yang penuh senyuman, dunia yang penuh sapaan, dan dunia tanpa kepura-puraan. Senyum yang kemarin hanya kulihat dari emoticon sekarang asli di hadapan . Canda yang kemarin hanya pada layar sekarang kian nyata terpancar.

       Dalam 9 jam ini aku belajar bahwa manusia terlalu sibuk mencari kesenangan dalam maya, padahal dunianya yang asli lebih asyik dan menyenangkan. Selain soal kenyataan ternyata tidak bercengkrama dengan maya mampu mengurangi beban, langkahku pagi ini terasa begitu enteng. Dan semua prediksiku pagi tadi seakan meleset, tak ada dunia yang membosankan, tak ada dunia yang sepi, bahkan tak ada rasa khawatir yang menghantui. Pekerjaan yang sangat ku nikmati dan sangat menyenangkan walaupun tidak ditemani handphone. Dan seharusnya media hanya mendekatkan yang jauh tanpa perlu menjauhkan yang dekat.

       Kesimpulannya mungkin kita memang perlu memegang handphone namun tidak harus setiap saat, setiap menit, apalagi setiap detik.Terima kasih.

Oleh : Ustadz Eka Budianto

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay