Guru Adalah Pengalaman Terbaik

Katanya pengalaman adalah guru terbaik. Tapi bagiku, aku lebih suka diksi yang lain; menjadi guru adalah pengalaman terbaik. Walaupun belum genap 3 tahun menjadi seorang guru, rasanya sudah terlampau banyak pengalaman yang aku dapat. Bahkan lebih dari sekadar gaji bulanan. Ditambah usiaku yang masih muda hal seperti ini jadi pelajaran yang luar biasa. Hitung-hitung menjadikan ini sarana untuk mengupgrade diri sembari mempersiapkan kalau nanti punya anak sendiri.

Guru itu kuncinya kebermanfaatan dan keikhlasan, ya setidaknya itu yang aku pegang sampai sekarang. Sebenarnya itu tidak terkhususkan untuk guru saja, tapi semua pekerjaan. Selain sibuk mengurus bocah-bocah polos yang haus ilmu, guru juga harus sempat atau bahkan sering-sering menata hati, menyadarkan diri bahwa yang dilakukan ini adalah sebuah pengabdian. Gaji dari Tuhan, adapun jika ada rezeki berupa uang, itu hanya sebagai bonus yang diberikan.

Menjadi guru tidak hanya sekadar memahamkan tentang 1+1=2. Lebih dari itu, guru harus menciptakan manusia yang berwawasan, yang paham untuk apa mereka ada dan diciptakan. Guru harus bisa berdiri sebagai pemimpin, tidak hanya mencerdaskan otak, tapi membimbing hati anak-anak juga membentuk watak. 1+1=2 itu bisa diajarkan nanti, tapi watak harus buru-buru ditangani. Tak perlu usaha lama untuk memahamkan kepada anak tentang pengetahuan dan rumus, tapi perlu kerja keras untuk sekadar mengajarkan mengantre dengan lurus.

Jadi menurutku, menjadi guru lebih dari sekadar profesi. Sangat banyak pelajaran moral berserakan yang menunggu untuk diambil, dipelajari, dan diamalkan. Ya, sangat banyak. Sampai pada akhirnya, cepat atau lambat kita akan sadar bahwa kita sangat beruntung dari siapapun.

Oleh : Ustadz Ahmad Saifuddin, S.Si

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay