Ikat Hatinya dengan Cinta

“Bunda temenin main dong. Bunda boleh bacain ini?”

            Atau “Aku mau sama bunda, ga mau sama mba…”

Atau permintaan sederhana lainnya yang meluncur dari lisan si kecil. Terkadang kita merasa repot atau kesal karena harus memenuhi permintaan anak di sela kesibukan domestik kita di rumah. Tak jarang kita menawarkan televisi atau gadget untuk menunda permintaan mereka dan kita bisa fokus untuk menyelesaikan pekerjaan kita.

            Mungkin terlihat sederhana, namun memberi efek yang luar biasa. Ketika anak (balita) sering meminta dekat dengan bundanya, bermanja-manja atau dilayani keperluan pribadinya, itu menjadi tanda bahwa Bunda adalah yang pertama di hatinya.         Berbahagialah, karena Bunda sudah berhasil mengikat hatinya. Kalimat sayang, kalimat motivasi yang selalu Bunda dengung-dengungkan ketika berkomunikasi dengan si kecil akan merekam kuat memori-memori masa kecil yang akan terbawa dalam pembentukan kepribadian anak ketika dewasa.

            “Anak yang pengasuhannya penuh dengan cinta akan menjadi pribadi yang mudah memaafkan. Dan sebaliknya orang yang tidak pernah mendapat kasih sayang akan tumbuh menjadi pribadi yang negatif thinking, gampang marah, tersinggung, dendaman”.     Disebutkan juga oleh Ustad Bendri Jaisyurrahman (Konselor Parenting) juga bahwa orang yang tumbuh tanpa kasih sayang dengan istilah Fakir Cinta. Orang yang fakir cinta hidupnya akan mudah dipenuhi kemarahan, kata-kata keras dan kasar dan perilaku yang tidak menyenangkan.

            Kasih sayang orang tua dalam pengasuhan adalah hal pertama dan utama diperlukan. Maka sirami setiap lisan dan perilaku kita sebagai orang tua dengan cinta dan kasih sayang. Agar kelak Bunda dan Ayah adalah sosok yang mereka rindukan dan keluarga adalah tempat ternyaman untuk kembali karena hatinya telah terikat dengan cinta Bunda dan Ayah. Bukankah anak adalah titipan yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya. Bukan kepada Guru di sekolah, atau mba pengasuhnya, tapi kita orang tuanya.

Oleh : Ustadzah Aprilia Putri Mariana Dewi, S.E

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay