Sekolah Orang Tua, Perlukah?

Ayah bunda yang hebat, sebagai orang tua dari calon penerus peradaban tentunya kita terus belajar menjadi seorang arsitek peradaban yang handal.

            Menyiapkan generasi milenial menjadi pemimpin peradaban yang visioner memang tidak mudah namun bukan berarti juga tidak bisa. Semua dapat kita lakukan dan dapat kita mulai dari diri kita sendiri sebagai orang tua. Bagaimanapun potret putra-putri kita adalah cerminan dari bagaimana pola asuh kita di rumah dan lingkungan yang baik untuk Ananda tercinta kita. Oleh karena itu, memang menjadi orang tua handal memerlukan proses belajar yang panjang. Sepanjang waktu selama kita hidup barangkali proses belajar menjadi orang tua hebat tidak akan pernah berhenti. Hanya orang-orang tertentu saja yang merasa dirinya sudah kenyang dengan ilmu pengasuhan anak sehingga ketika diajak mencari ilmu agak sulit untuk bergerak.

            Ayah bunda, mari kita berhati-hati di dalam mengantarkan anak-anak kita menjadi sosok yang dewasa secara akhlaq, matang secara pemikiran, rapi dalam adab, sempurna dalam ibadah. Sekali lagi, mari terus belajar menjadi orang tua yang rendah hati. Mau menerima nasihat dari siapapun bahkan juga dari anak-anak kita. Ketika anak kita mengingatkan kita untuk sholat, makan minum menggunakan tangan kanan. Jangan pernah mengatakan kepada mereka “Kamu anak kecil tahu apa”. Betapa sakitnya hati mereka ketika kata-kata itu terlontar dari sosok yang sangat dikagumi oleh buah hati kita.

            Ayah bunda hebat pasti bangga ketika anak-anak kita memiliki perubahan sikap yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Bukankah itu yang ayah bunda inginkan? Mengapa lantas ayah bunda marah ketika Ananda mengingatkan ayah bunda melakukan kebaikan? Apa yang salah dalam diri kita ayah bunda? Mungkinkah kita merasa bahwa segalanya sudah ayah bunda berikan.

            Semuanya sudah ayah bunda penuhi. Iya, mungkin memenuhi secara materi sudah terlalu kenyang. Tetapi, memenuhi secara hati, emosional, secara ruh. Apakah itu menjadi prioritas ayah bunda? Atau hanya sekedar saja. Iya menjadi orang biasa-biasa saja. Yang penting tahu dasar agama. Tahu baik buruk. Tidak perlu terlalu fanatik dalam beragama. Ayah bunda? Tahukah kita bahwa pernyataan dan sikap itu justru mengkerdilkan kemampuan  kita sendiri sebagai orang tua. Seharusya kita perbanyak belajar baru kita bisa komentar. Jangan hanya sekedar kemampuan yang dangkal lalu kita pandai menyangkal. Termausk menyangkal pendapat anak yang bisa jadi itu benar.

            Ayah bunda mari kita mulai muhasabah atau merenung. Seberapa banyak ilmu yang sudah kita miliki hingga kita berhenti belajar. Padahal perkembangan jaman selalu cepat berubah. Mampukah kita akan mengimbangi pengetahuan mereka (buah hati kita) di saat anak-anak kita menjadi anak-anak yang kritis dan hebat?. Atau sekedar tunduk dan pasrah pada kondisi yang ada.

            Ayah bunda, menjadi teladan baik bagi anak-anak kita memang tak mudah. Mereka tumbuh dengan cepat dengan segala bentuk kecerdasan akalnya. Potensi luar biasa yang mereka miliki sayang sekali jika kita sebagai orang tua menyia-nyiakan potensi mereka. Bagaimana kita mengetahui potensi anak-anak kita. Tentunya dengan banyak menggali dan terus belajar menjadi orang tua persuasif bagi mereka. Mari, kita sama-sama memperbaiki diri sebelum hal-hal yang membuat kita menyesal sepanjang hidup, menimpa anak-anak kita.

            Mereka adalah batu permata yang sangat mahal harganya. Kristal emas yang sangat mahal namun sebenarnya mereka rapuh. Dengan kehadiran ayah bunda penuh di sisi Ananda mereka akan tumbuh menjadi kristal emas yang sangat kuat karena dilindungi dengan lapisan baja kuat dan terang. Mereka menyadari bahwa sentuhan emosi dan motivasi kuat dari ayah bundanyalah yang mengantarkan mereka pada pribadi yang awalnya rapuh menjadi sosok pribadi yang sangat kuat dan berkarakter.

            2045 mereka akan tumbuh menjadi sosok kristal yang bertransformasi menjadi pemimpin-pemimpin kebanggaan ayah bundanya. Mari, ayah bunda hebat…. Berikan narasi pada anak-anak kita. Latihlah mereka berimajinasi untuk mengejar mimpi-mimpinya. Karena narasi yang kuat itu harus dibangun dan dihidupkan serta dimulai dari kita sebagai orang tua.

Selamat menjadi orang tua hebat untuk generasi hebat. Selamat menjadi orang tua teladan untuk calon pemimpin peradaban

Mari ayah bunda, kita berjuang Bersama.

Oleh : Lailatul Widayati, S.H

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay