Anakku Oh Anakku

 “Tidak ada pemberian ibu bapak yang paling mulia kepada anaknya daripada pendidikan akhlak mulia” (Hadits Riwayat Al Bukhari)

Ayah Bunda …

Pendidikan tidaklah hanya bisa didapatkan dari sekolah saja. Namun, pendidikan bisa kita dapatkan dimana saja. Berbicara soal pendidikan anak, orang tua haruslah sadar bahwa pendidikan anak yang paling dasar didapatkannya dari orang tuanya sendiri. Karakter pada anak terbentuk dari apa yang sudah dicontohkan orangtua kepada anak.

Orang tua seringkali tak sadar akan hal itu. Seringkali orang tua berdalih bahwa anak usia dini belum tahu apa-apa sehingga jika si anak melakukan kesalahan akibat meniru perbuatan orang tuanya, si orang tua akan berkata “Nanti kalau sudah besar dia akan tahu perbuatan yang benar” atau “Nanti kan di sekolah diberitahu gurunya kalau itu tidak benar”. Padahal anak usia dini merupakan peniru yang ulung. Jika orang tuanya dengan sadar ataupun terbiasa melakukan kesalahan di depan si anak, perbuatan yang salah itu akan menjadi salah satu karakter yang terbentuk pada diri anak.

Membentuk karakter anak sejak usia dini agaknya gampang-gampang susah ya Ayah Bunda. Kebanyakan orang tua memiliki banyak keinginan untuk anak-anaknya. Tanpa tahu bagaimana harus membentuk karakter-karakter baik dalam diri anak. Terkadang keinginan orang tua tak sama besar dengan usaha yang diberikannya. Orang tua hanya menginginkan anaknya berperilaku baik, tapi tak mencontohkannya. Ingat Ayah Bunda, anak-anak adalah peniru yang ulung.

Apapun yang ia lihat akan menjadi contoh untuknya. Lalu bagaimana usaha kita untuk membentuk karakter anak sejak usia dini sehingga kita tidak terkesan memaksakan?

  1. Komunikasi

Komunikasi dengan anak adalah langkah awal mentransfer nilai-nilai kehidupan. Ayah bunda, bagaimana dengan komunikasi kita sehari-hari pada anak? Sudahkah kita berkomunikasi dua arah? Sudahkah kita mendengarkan pendapatnya dengan baik, sebaik ia mendengarkan pendapat kita? Jika belum, cobalah untuk memperbaiki komunikasi pada anak agar tidak muncul masalah dikemudian hari.

Contoh kecil berkomunikasi dengan anak adalah memanggil anak dengan nama panggilan yang baik. Jangan sampai karena berdalih hanya “bercanda” orang tua  malah memanggil anaknya dengan panggilan yang kurang baik. Sehingga menyebabkan anak malu dan rendah diri. Hal ini justru akan membentuk karakter rendah diri dan tidak percaya diri pada anak.

Selain itu, jadilah pendengar yang baik. Dengarkan cerita anak. Tunggu giliran anda untuk berbicara. Hal ini akan mengajarkan pada anak tentang giliran untuk berbicara. Dan ajaklah anak berbicara hal yang baik-baik saja. Janganlah sekali-kali memberi anak banyak perintah. Jika orang tua ingin menyampaikan pendapat atau kata perintah, maka sampaikan satu perintah terlebih dulu sampai ananda terbiasa melakukan perintah itu dengan nyaman.

Orang tua boleh menambahkan perintah lain jika anak sudah terbiasa melakukan perintah yang sebelumnya diberikan. Karena jika terlalu banyak perintah akan menjadikan anak merasa tidak nyaman. Atau bagaimana jika kita membuat variasi dalam memberi perintah. Misal “Bisakah kakak mengambilkan sapu untuk bunda?”

Beri waktu anak untuk menyampaikan pendapatnya. Tidak semua yang kita pikir baik, akan diterima oleh anak. Beri anak kesempatan menyampaikan pendapatnya. Terkadang orang tua menyampaikan keinginannya terhadap anak dengan sedikit memaksakan kehendaknya.

Sebagai orang tua yang baik, yang sangat menginginkan kebaikan bagi anaknya, pastinya menginginkan kenyamanan juga pada diri anak. Jika menurut kita baik, maka sampaikanlah dengan cara yang baik juga. Sampaikan pendapat orang tua pada anak tanpa harus memaksakan kehendak. Setelah itu, beri waktu anak untuk menyampaikan pendapatnya juga.

Kemudian carilah solusi bersama. Buatlah daftar sebab-akibat atau kebaikan dan konsekuensi yang harus diterima jika hal tersebut diambil atau ditolak anak. Lalu sampaikanlah pada anak sekali lagi tanpa memaksa. Hal ini dikarenakan akan menjadikan anak melakukan hal baik dengan senang dan tanpa paksaan apalagi kekerasan.

Karena setiap kali kita melakukan kekerasan, anak akan merekam apa yang kita perbuat olehnya dan akan menjadikan anak lebih buruk. Jadi, jangan sekali-kali berkomunikasi pada anak dengan kekerasan apalagi melakukannya dengan tangan kita sendiri ya.

 

  1. Beri Contoh

Meski terkadang anak berbuat keliru, namun pada dasarnya, anak tidak berniat jahat. Seringkali anak hanya melakukan apa yang ingin dia perbuat tanpa tahu apa yang sedang ia lakukan. Di sini, orang tua berfungsi sebagai pengawas sekaligus temannya. Beritahu anak bahwa apa yang sedang ia perbuat itu salah dan beri anak cara atau contoh yang tepat. Karena anak-anak lebih membutuhkan contoh dibandingkan kritik.

Pada anak usia dini, memberi contoh adalah salah satu cara yang sangat efektif. Jika Orang tua ingin membentuk karakter suka sholat pada diri anak, maka orang tua harus memberi contoh rajin sholat pada anak. Misalnya, mengajak anak sholat di masjid tepat waktu. Biarkan anak melihat bagaimana orang tuanya melaksanakan sholat.

Hal ini akan menjadikan anak terbiasa dengan suasana dalam pelaksanaan sholat itu sendiri.

“Anak-anak tidak pernah baik dalam mendengarkan orang yang lebih tua. Namun anak-anak tidak pernah gagal dalam meniru orang yang lebih tua” _James Baldwin

 

  1. Kasih Sayang

Ayah Bunda, anak merupakan aset yang sangat berharga. Anak bukanlah beban hidup yang diberikan sang pencipta untuk orang tua. Terkadang anak merupakan ujian bagi sebagian orang tua. Namun, Ayah dan Bunda, saat kita (orang tua) meninggal nanti yang paling berhak mensholatkan orang tua adalah anaknya sendiri.

Kita harus ingat doa anak sholih yang akan menyelamatkan orang tua di hari hisab nanti. “Sesungguhnya seseorang yang meninggal dunia diangkat derajatnya di Syurga lalu ia berkata ‘Wahai Tuhanku, dari manakah ini?’ Dia berkata kepadanya ‘Karena anakmu membaca istigfar untukmu’.” (HR. Imam Bukhari). Menurut riset, anak yang sedari kecilnya dipenuhi dengan kasih sayang cenderung memiliki karakter baik dalam dirinya. Anak yang tumbuh dengan kasih sayang orang tuanya dan lingkungannya akan tumbuh dengan kebaikan untuk lingkungannya dimanapun ia berada.

Rasulullah SAW bersabda “ Tiada kuasa aku (menolong kamu) jika Allah telah mencabut sifat belas kasih dari hatimu” (HR. Bukhari). Memberikan kasih sayang pada anak akan membentuk karakter yang baik pada diri anak yang sekaligus merupakan sifat yang disukai oleh Rasulullah SAW.

Ayah bunda ..

Waktu kecil anak tidaklah lama. Jadi, pergunakan waktu yang singkat itu untuk berbagi kasih sayang pada anak. Jangan sampai orang tua sering pergi meninggalkan anak disaat-saat penting dalam hidupnya. Sehingga anak menjadi terbiasa tanpa orang tuanya. Sungguh sangat menyedihkan jika saat kita tua nanti anak akan lebih memilih kesibukannya dengan teman-temannya atau pekerjaannya dibandingkan mengobrol dengan orang tuanya.

Buat anak terbiasa dengan adanya kasih sayang dari orang tuanya dan lingkungannya. Beri kasih sayang bahkan dalam hal-hal yang kecil. Misalnya memandang anak dengan pandangan kasih sayang. Pandangan ini akan membuat anak lebih percaya diri apabila berhadapan dengan lingkungannya. Sering-seringlah memberi anak pelukkan.      Menurut riset, anak yang dipeluk setiap hari akan memiliki IQ yang lebih tinggi dibandingkan anak yang jarang dipeluk orang tuanya, lho. Dan perlu orang tua tahu, jika waktu tidur pada anak merupakan moment paling berkesan pada anak. Maka dari itu, berikan ciuman sebagai tanda sayang pada anak. Cium anak dan berikan usap-usapan kecil pada kepala anak sambil bacakan doa-doa yang baik.

 

  1. Terima Anak Seadanya

Kita pun bukanlah orang tua yang sempurna. Maka tidaklah bijak jika kita menginginkan anak yang sempurna. Perlu kita sadari jika setiap anak itu cerdas. Hanya saja kecerdasan anak itu beragam meski saudara sekandung sekalipun. Jangan sekali-kali kita membeda-bedakan anak.

Memotivasi anak untuk melakukan kebaikan akan lebih bermanfaat dibandingkan kritikan. Jika anak memiliki kelemahan, ajari anak untuk mengubahnya menjadi sebuah kekuatan. Karena satu-satunya kegagalan adalah tidak mencoba. Seperti apa yang telah disampaikan oleh Thomas A. Edison “Aku tidak gagal. Hanya saja, aku menemukan 10.000 cara yang ternyata tidak berhasil”.

Siapkah ayah bunda menjadi orang tua hebat yang memiliki anak se genius Edison atau mungkin kelak malah menjadi pemimpin di perusahaan-perusahaan sekelas temuan Thomas A. Edison?

 

  1. Belajar

Anak usia dini umumnya sangat menyukai cerita. Anak biasanya akan sangat senang bila orang tua membacakan cerita saat ia akan beranjak tidur. Namun, hati-hati sebagai orang tua kita harus bijak memilih cerita apa yang akan kita sampaikan kepada anak-anak. Utamakan ada pesan moral dalam cerita yang akan kita bacakan. Karena diwaktu akan tidur, daya serap otak anak berfungsi dengan sangat baik.

Jadi selain ia mendengarkan, anak akan belajar pelajaran moral yang disampaikan oleh cerita tersebut. Intinya dalam proses belajar anak, cerita atau bacaan sangatlah penting. Untuk itu, orang tua harus bijak memilah bacaan yang baik-baik dan bacaan yang memotivasi bagi anak. “Bacakan untuknya Al Quran, ajarkan sejarah, untaian syair-syair dan ajarkan sunnah”_Harun Ar Rasyid

 

  1. Mandiri

Jangan mempermudah keseharian anak bila tak ingin mempersulit masa depannya. Pastinya orang tua sangat menyayangi anaknya. Namun terkadang karena dalih sayang atau kasian, seringkali orang tua mempermudah pekerjaan anaknya. Justru mengajarkan kemandirian sejak anak usia dini adalah kunci kesuksesan anak dikemudian hari.

Cukup bantu anak ketika ia benar-benar membutuhkan bantuan. Awasi saja dulu dan jangan buru-buru ingin membantunya. Bukan malah membantunya, sikap orang tua yang kasian kepada anaknya dan terburu-buru ingin membantunya, akan mempersulit hidupnya dikemudian hari.

 

  1. Kerjasama

Mendidik anak atau membentuk karakter anak tidaklah mudah dan tidak hanya membutuhkan satu orang saja. Mendidik dan membentuk karakter pada diri anak membutuhkan kerjasama banyak orang, bahkan “Butuh 1 negara untuk mendidik anak”_Hillary Clinton. Keluarga adalah tim terkecil yang dimiliki seorang anak.    Jadi, seluruh anggota keluarga memiliki andil dalam pembentukkan karakter pada diri anak. Itu artinya, seluruh anggota keluarga harus memiliki kerja sama yang baik dalam hal ini. Keluarga harus memiliki satu suara dalam mendidik anak. Jika tidak, anak akan bingung dan malah akan memilih untuk melakukan hal yang menurut ia paling mudah untuk dilakukan, yang notabene hal yang paling mudah dilakukan anak umumnya adalah sebuah kekeliruan. Jadi, apakah ayah bunda sudah baikan?

Penting untuk orang tua memperlakukan anak berdasarkan usianya. Ali bin Abi Tholib berkata “ Usia 0-7 tahun, layanilah anak ibarat raja. Usia 8-14 tahun, jadikan anak seperti tawanan perang, dimana anak punya kewajiban sekaligus hak. Usia 15-21 tahun, perlakukan ia seperti sahabat. Menjadi teman ngobrol, curhat, diskusi bahkan mencari solusi dari masalahnya”.

Mendidik anak adalah Berjuang di jalan Alloh, Ayah Bunda. Karena sungguh Ayah Bunda yang hebat, pendidikan yang paling baik dan paling mendasar adalah pendidikan agama. Anak-anak yang sejak dini dididik untuk taat kepada Rabbnya, akan tumbuh menjadi manusia yang luar biasa dikemudian hari, pemimpin peradaban masa depan.

Oleh: Ustadzah Fitri Arissia Padillah. A.Md.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay