Abdullah Ibnu Rawahah

Wahai diri…. Jika kau tidak gugur di medan juang… kau tetap akan mati, walau  di atas ranjang.” Abdullah Ibnu Rawahah

 

Kalimat-kalimat di atas adalah potongan barisan syair dari seorang sahabat Rasululullah. Dia adalah Abdullah Ibnu Rawahah. Siapakah sosok ini?

Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selalu mengupayakan hal terbaik untuk dakwah tauhid di muka bumi. Beliau selalu memanfaatkan momen-momen yang ada untuk berdakwah. Termasuk ketika musim haji.

Kala itu ada sekelompok kaum dari Madinah yang atas ijin Allah menerima dakwah Rasulullah dan bersedia memberi perlindungan untuk beliau di negeri Yatsrib (Nama kota Madinah kala itu). Sehingga terjadilah Bai’at Aqobah pertama dan kedua. Maka salah satu dari yang berbai’at pada saat itu adalah Abdullah Ibnu Rawahah.

Ketika Rasullullah dan para sahabat telah hijrah dan menetap di Madinah. Abdullah Ibnu Rawahah adalah orang yang paling banyak kegiatan dan usahanya dalam membela agama Islam. Ia juga memiliki keahlian menulis di tengah kaum yang sangat jarang dapat menulis dan membaca.

Beliau juga ahli dalam hal syair. Rasullullah menyukai syair yang dibawakan oleh Abdullah Ibnu Rawahah. Pada suatu ketika pernah Rasulullah setelah mendengar syairnya lalu berkata, “ Dan Engkau pun akan diteguhkan oleh Allah.” Kaum muslimin pun juga sering mengulang-ulang sya’ir beliau.

Penyair yang produktif ini pernah sangat berduka ketika turun wahyu Allah yang artinya, “Dan para penyair, banyak pengikut mereka adalah orang-orang yang sesat.” (QS Asy – Syu’ara ayat 224).  Namun hatinya kembali tenang setelah Allah menurunkan firmanNya pada Surat  Asy-Sya’ara ayat 227 yang artinya, “Kecuali orang-orang penyair yang beriman dan beramal sholeh dan banyak ingat kepada allah dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya.”.

Kiprah Abdullah Ibnu Rawahah dalam medan peperangan juga tidak diragukan lagi. Banyak peperangan yang ia lalui untuk ikut menegakkan agama Allah. Peperangan tersebut antara lain adalah Perang Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah, Khaibar, dan Muktah. Perang Muktah adalah perang terakhir yang mengantarkan Abdullah Ibnu Rawahah menjemput syahidnya dengan ridho Allah.

Perang Muktah adalah perang yang besar antara tentara muslim dengan tentara romawi. Jumlah pasukan kaum muslimin jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pasukan Romawi yang terlihat seperti tiada ujungnya. Untuk perang sebesar ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam  mengutus 3 panglima perang sekaligus, yaitu Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah Ibnu Rawahah.

Ketidakseimbangan jumlah pasukan ini sempat membuat beberapa pasukan muslimin berfikir untuk meminta bala bantuan tentara tambahan dari Rasulullah. Namun Panglima perang ke 3 yaitu Abdullah Ibnu Rawahah berseru, “ Kawan-Kawan sekalian, Demi Allah, Sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah! Kita tidak memerangi mereka melainkan karena mempertahankan agama kita ini. Yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah.

Kalimat di atas mampu membakar semangat seluruh pasukan muslimin dan merekapun bertempur dengan gagah berani. Ketiga panglima perang yang ditunjuk oleh Rasulullah berguguran secara bergantian mempertahankan panji Islam. Zaid bin Haritsah bertempur lalu syahid, bendera dipegang oleh Ja’far  Abi Thalib dan terkahir Abdullah Ibnu Rawahahlah yang memegang bendera Islam hingga Ia menjemput syahidnya di medan Muktah.

Sahabat Rasulullah ini, layak kita jadikan teladan dalam hal semangatnya membela Islam. Apapun ia lakukan demi tegaknya kalimat tauhid di muka bumi dan membela Rasulullah. Ia selalu yakin bahwa akan beroleh dua atau salah satu dari 2 kebaikan yaitu kemenangan Islam atau Syahid di jalan Allah.

Potretnya terutama dalam perang Muktah mengajarkan kepada kita bahwa  tegaknya kalimat tauhid. Yaitu kemerdekaan yang hakiki bagi seluruh manusia harus diperjuangkan. Perjuangan yang totalitas. sehingga ia tak membiarkan badannya bahkan hawa nafsunya mengalahkan kuatnya tekat memperjuangkan agama Allah. Kini, Abdullah Ibnu Rawahah telah menikmati indanya syahid dan syurga kelak bersama Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Semoga Allah meridhoinya.

Okik Hadi Saputro, S.Pd.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay