Mensyukuri dan Menikmati

“Hidup itu harus dinikmati”, kalimat itu dahsyat dan menyentuh, khususnya buat kita yang merasa berat dalam menghadapi hidup, membuat kita berfikir kembali tentang apa yang kita jalani saat ini dan memberikan energi dalam menghadapi kesulitan hidup.

Namun, kata itu juga dahsyat bagi kita yang diberikan kemudahan dalam hidup ini, kita akan cenderung menikmati setiap kemudahan yang sudah diberikan sehingga hidup ini menjadi terasa lebih nikmat.

Tapi benarkah sikap itu?

“Hidup itu harus disyukuri”, ini adalah kalimat kedua yang mempunyai dampak yang hampir sama dengan kalimat pertama (hidup itu harus dinikmati-red), lalu apa bedanya???

Mari kita simak kalimat indah berikut ini;

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”

‘Menikmati’ adalah tentang kita. Siapa saja bisa menikmati, sekalipun oleh mereka yang tidak percaya tuhan. Maka sesunggunya mensyukuri adalah antithesis nya.

Dari sisi perbuatan, ‘menikmati’ berhenti pada kita, namun ‘mensyukuri’ mempunyai reaksi kepada kearifan sikap dan perbuatan setelahnya, karena syukur adalah kata kerja.

Jadi hidup jangan hanya kita nikmati, karena ia mempunyai risiko yang besar, apa itu?

“kufur nikmat”

Simak kelanjutan kalimat indah yg sudah disebutkan diatas;

وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”

 

Silahkan anda pilih prinsip mana yang mau anda gunakan…

MENSYUKURI atau MENIKMATI

 

Oleh : Ustadz Ir. Moh Khairi Suryono

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay