Kaya Bisa Instan, Tapi Sukses Tidak Bisa Instan

“Semua Butuh Proses, Bahkan Mie Instan Saja Masih Butuh Direbus’’

Banyak orang yang masih rancu bahwa kaya adalah identik dengan orang sukses. Namun ada persepsi lain bahwa orang kaya itu bisa didapat dengan instan. Kaya tidak sama dengan sukses. Orang kaya dapat memperoleh kekayaannya dengan instan misalnya dengan mendapatkan warisan dari orang tua, hasil korupsi, merampok, berjudi, dan sebagainya. Tentunya beda dengan sukses. Sukses tidak bisa diperoleh dengan instan. Sukses membutuhkan suatu proses yang cukup lama tergantung seberapa gigih orang tersebut dalam meraih kesuksesan.

Tolak ukur dari kesuksesan adalah dilihat dari tiap individu tersebut bukan dari orang lain. Setiap individu mempunyai tujuan hidup. Dengan adanya tujuan hidup, orang mulai menciptakan suatu rencana dalam hidupnya. Tanpa rencana, orang tidak mungkin berjalan sesuai dengan apa yang diinginkannya.

            Learning by experience dengan orang yang pernah sama-sama mengalami kegagalan adalah kuncinya. Orang yang punya pengalaman yang sama dalam kegagalan tapi sekarang sudah mencapai kesuksesan akan dapat membantu kita untuk mengukur dimana posisi kita. Bahkan orang yang sudah sukses itu akan membangkitkan semangat kita agar kita harus tetap dalam track yang sama walaupun garis finish itu belum kelihatan.

Dekat dengan kesuksesan itu diikuti dengan kegagalan, namun harus diingat bahwa tidak ada namanya kegagalan. Orang harus mengatakan learning of experience saat kita belum mencapai kesuksesan.

Penilaian sukses itu ditentukan oleh diri kita masing-masing. Kesuksesan seseorang itu bersifat individual dan tidak bisa disamakan dengan orang lain karena focus achievement atau goal hidupnya juga berbeda. Jadi, kita tidak perlu melihat penilaian orang lain tentang suatu kesuksesan.

Tips sukses:

  1. Memiliki goal atau tujuan hidup.
  2. Memiliki rencana, peta atau resep, dan target dalam melangkah untuk mencapai tujuan hidup.
  3. Orang yang selalu mensupport saat kita masih dalam keadaan belum sukses.
  4. Siap untuk menderita sebelum tercapainya keberhasilan itu.

 

Oleh: Ustadzah Anis Rizkiatul Jannah, S.Pd.I.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay