Kisah Terharu Part #2

Sore itu, waktunya salat Isya, biasanya Ayah dan kakak Amanda bersiap berangkat ke Masjid untuk shalat lsya berjamaah. “Dek, sholat yuk ke Masjid?”  tanya Ayah dan kakak berbarengan. “Ah ngga mau, di rumah aja cape”.

Begitulah dedek, panggilan sayang kami kepadanya kalau di rumah. Selalu capek yang dijadikan alasan kalau diajak sholat ke Masjid. “Maunya ke Masjid ada bunda”,”tapi kan bunda lagi ngga sholat dek!” sahut bunda.  “Iya kan enak kalau ada bunda” sahutnya lagi. Biasanya memang kami selalu berempat ke Masjid. Namun, ada kalanya bunda sedang tidak sholat, dan itu selalu dijadikannya alasan untuk kurang bersemangat beribadah. Bahkan kalau dengar orang mengaji saja, dia tidak suka. Astaghfirullahaladzim.

Alhamdulillah sejak sekolah di Mutiara, lambat laun keengganannya dalam beribadah mulai berubah. Yang tadinya kurang rajin jadi rajin, yang tadinya ada rasa tidak suka, jadi senang beribadah. Baginya aktivitas mengaji, hafalan, dan sholat menjadi aktivitas yang menyenangkan. Bahkan kini, dia lah yang selalu semangat mengajak sholat di masjid. Jika waktu sholat maghrib tiba, dia pun bergegas wudhu, dan memakai mukena sendiri. “Yah, ntar sholat di masjid ya?” pintanya kepada Ayahnya.  Bagaimana tidak nyess rasanya hati ini mendengar dia berubah menjadi senang beribadah.

Saking terharunya jika dia tidur saya usap kepalanya sembari berkata “surga untukmu, Nak” lnsha Allah cita-cita Almarhumah nenek (ibu saya) terkabul, yang mengingingkan cucunya jadi hafidz (penghafal Al Quran). Beliau ini salah satu teladan bagi saya, bagaimanapun kondisinya, dan dimanapun beliau berada selalu berusaha sholat tepat waktu. Bahkan detik-detik sebelum koma, beliau minta dilap supaya bisa sholat tepat waktu. Ya Allah bisakah saya seperti beliau sholat tepat waktu. Bahkan hutang puasa Ramadhan saja selalu beliau tuntaskan tepat waktu setelah menunaikan puasa sunah syawal.

Alfatihah untukmu lbu. Maafkan anakmu ini, hanya bisa mendoakanmu saja selepas sholatku. Untungnya di detik-detik terakhirmu, aku masih bisa merasakan nadi dipergelangan tanganmu, sambil ku berucap dalam hati, “lbu, Yanti (nama kecil saya) ikhlas lbu pergi” Masya Allah tidak lama setelah saya mengucapkan itu, lbu benar-benar pergi untuk selama-lamanya. Innalillahi wa lnnaillaihi rojiuun.

Ya Allah, perlahan aku pergi menjauh, nangis dipojokan pintu kamar RSUP Sanglah, menangisi kepergian lbuku. Aku kabari teman-teman dekatku, suami, dan anak-anak bahwa beliau sudah tidak ada. 10 Oktober 2018 genap setahun lbu meninggal. Ibuku seorang cancer fighter, beliau penderita breast cancer (kanker payudara). Selamat jalan lbu, semoga husnul khotimah.

Untuk terakhir kalinya bisa bersamanya. Kumandikan beliau dan kukafani beliau, bersama pemandu Fardu Kifayah, beberapa teman, juga salah seorang tetangga. Padahal biasanya aku paling takut sama yang namanya kamar mayat, takut dengan warna putih kain mori (kafan) karena ada trauma dan memori masa kecilku yang membuatku takut.

Tetapi, entah ada kekuatan darimana aku jadi berani, padahal di sekeliling tempat pemandian jenazah, ada dua jenazah juga. Rasa takutku seakan sirna, kalah dengan rasa hormat dan sayangku pada lbuku. Apalagi tengah malam meninggalnya. Karena akan dimakamkan di Jawa, dan dibawa dengan menggunakan ambulan. Itulah alasan kita memandikan dan mensholatinya di kamar mayat RSUP Sanglah. Semangat tetap lstiqomah dengan ibadah kita, tepat waktu, jangan ditunda karena kematian itu pasti datangnya. Kita semua sedang antre menunggu panggilan Allah, kapanpun dan dimanapun, mau tidak mau kita mesti siap.

Oleh : Yuniar Pasatrina Arifianti, S.Sn

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay