Siapakah Peniru Ulung Itu?

“Anak memang tak gampang menerima nasihat orang tua. Namun, anak begitu gampang meniru apa yang dilakukan dan diucapkan orang tua”.

 

Harapan besar memiliki seorang anak adalah dapat menjadi penyejuk dan membuat bahagia hati orang tuanya (QS. Al-Furqon : 74). Namun, kita sebagai orang tua kadang-kadang lupa bahwa akan kita didik seperti apa anak kita saat ini dan kelak. Seringkali kita sebagai orang tua lupa membekali diri bagaimana menjadi orang tua baik dan dapat memberikan contoh terbaik untuk putra-putrinya.

Bahkan banyak diantara kita orang tua yang selalu menuntut kesempurnaan dari anak-anak kita tanpa memberikan evaluasi pada diri kita sendiri sebagai orang tua. Ayah bunda, kita harus menyadari bersama bahwa anak-anak kita memiliki potensi yang berbeda dengan yang lain. Jangan pernah menuntut anak kita bisa melakukan segalanya yang mungkin bisa dapat dilakukan oleh temannya. Allah Swt sudah memberikan potensi istimewa untuk setiap anak termasuk anak-anak kita.

Apalagi kita selalu membandingkan dengan temannya atau bahkan dengan kakak atau adiknya. Betapa sedihnya hati anak-anak kita. Karena sesungguhnya mereka tak pernah meminta akan lahir dan dilahirkan dari rahim dan keluarga siapa. Mereka tak akan pernah memberontak saat ini secara fisik. Namun, secara hati pedihnya luar biasa.

Ayah bunda, mari sama-sama mencoba merenungi banyak hal yang sudah kita lakukan terhadap buah hati kita. Tentu saja terdapat banyak kesalahan yang telah kita lakukan pada mereka. Jangan pernah menuntut mereka benar sebelum pribadi kita mampu menjadi orang tua yang baik bagi mereka.

Sudahkah kita sebagai orang tua memberikan contoh yang baik bagi putra-putri kita. Misalnya memberikan contoh saat makan dan minum menggunakan tangan kanan dan dengan posisi duduk. Sudahkah kita mengajarkan putra-putri kita cara bersuci dengan benar, misalnya buang air kecil di toilet, bukan di sembarang tempat. Bagaimana posisi buang air kecil meskipun itu anak laki-laki. Sudahkah mengajak ananda sholat di awal waktu, atau mungkin di saat adzan berkumandang kita sebagai orang tua asyik mengobrol dan main gadget. Sedangkan anak-anak kita dibiarkan berlari-larian main tanpa diarahkan untuk sholat.

Ayah bunda… seperti itukah potret yang kita harapkan dari anak kita? Tentu saja tidak bukan? Oleh karena itu, ayah bunda sebelum menuntut anak kita sempurna maka kita sama-sama evaluasi sudah bisakah kita memberikan contoh terbaik bagi anak-anak kita?

Ayah bunda, lingkungan yang baik dalam mengarahkan ananda menjadi pribadi berkarakter memang sangat penting kita dapatkan. Namun, tetap akan kembali kepada kita sendiri sebagai orang tua. Apakah melanjutkan proses pendampingan itu di rumah atau sebaliknya.

Kesuksesan yang akan didapatkan bagi anak-anak kita manakala mereka mampu mendoakan orang tuanya. Di saat tak adalagi harapan kecuali doa anak-anak yang sholih. Maka, kebahagiaan itu yang tak dapat dibeli dengan nilai materi apapun. Ayah bunda, memberikan lingkungan baik lingkungan sekolah ataupun lingkungan rumah itu merupakan kebutuhan bagi anak-anak kita.

Sukses bagi anak bermula dari orang tua yang memiliki narasi bagaimana mengarahkan mereka menjadi pribadi yang kokoh dan kuat mempertahankan kebenaran, kejujuran, dan keberagaman. Dan contoh terbaik yang diperlukan oleh anak-anak kita adalah bukan hanya kata-kata tetapi tindakan yang nyata dari orang tua di rumah ataupun orang tua di sekolah. Karena sesungguhnya mereka adalah peniru ulung perilaku orang-orang di sekitarnya.

 

Selamat menjadi orang tua teladan, ayah bunda…

Oleh : Lailatul Widayati, S.H

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay