Berjihad Di Jalan Ilahi

Guru bukanlah profesi akan tetapi menjadi guru adalah jihad bi nafsi, berjihad itu adalah kewajiban sebagai seorang yang beriman. Berjihad tidak hanya di medan perang tetapi berjihad yang pertama adalah berjihad di  dalam keluarga karena keluarga adalah madrasatul ula, di manapun dan jadi apapun eksistensi kita maka sebenarnya kita adalah guru, menjadi guru bagi diri kita sendiri bagi keluarga kita sudah tentu bagi sang pengabdi dia adalah guru dan tauladan bagi peserta didiknya. Berangkat dari konsep ini maka kita bisa membayangkan betapa dahsyatnya kemulian menjadi seorang guru.

Firman Allah QS At Taubah 41

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ

 ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Seorang guru memberi asupan gizi, nutrisi dan vitamin ke dalam Ruh keluarganya, anak-anak didiknya dan bagi dirinya. Membangun ruh yang sehat tentunya dari ruh yang sehat. Ruh yang sehat selalu berusaha mensucikan jiwanya. Jiwa yang jauh dari keangkuhan kesombongan karena selalu sadar tanah asal mula diciptakan. Jiwa yang memberi untuk ridho ilahi bukan untuk keuntungan duniawi ataukah karena dijanji materi atau kursi. Jiwa yang selalu tersadar ilmu harta tahta titipan sang pencipta. Jiwa yang selalu bersabar dengan apa yang dititahkan sang pencipta. Menjadi seorang guru mencakup tiga unsur, sebagai pribadi, sebagai anggota masyarakat dan sebagai pemberi kontribusi.

Menjadi guru dimulai dengan cinta Mencintai adalah belajar
Cinta adalah melihat apa yang baik dan indah dalam segala sesuatu;
Mencintai adalah belajar dari segala sesuatu;
Mencintai adalah melihat anugerah yang wajar dipelihara;
Mencintai adalah kemurahan hati dan mensyukuri segala rahmat Allah;
Penting bagi kita untuk memiliki perasaan cinta dalam hati;
Dalam bentuk dan wujud apapun,penting pula bagi kita untuk dicintai.

Lebih mudah mencintai daripada dicintai,
Jika kita mencinta…
kita pasti akan menemui cinta
Suatu hari nanti.

المرء مع من احب يوم القيامة

”Seseorang akan bersama orang yang dia cinta di hari kemudian”

Cinta dengan ilmu, dengannya kita bisa membedakan yang baik dan yang buruk yang hak dan yang bathil, bayangkan jika kita menimbang baik buruk dengan perasaan maka  hilanglah objektivitas tapi timbullah keangkuhan karena merasa diri selalu benar. Dengan ilmu pula kita bisa memberi untuk anak-anak didik kita. Memberi kebaikan dengan kebaikan mentransformasi kebaikan dengan hal, menjadi contoh dalam setiap kebaikan inilah awal pembentukan karakter untuk mejadi yang sesuai dengan tuntunan.

لسان الحال افصح من لسان المقال

Tentunya diawali dengan cinta, cinta kepada ilmu pegetahuan karena tentulah harus diawali dengan penanaman konsep, konsep agama yang harus luas agar tidak mudah memberikan nilai, nilai yang tidak kembali kepada hal yang sejati, mencari Ridho Ilahi.   Majelis ilmu, jalzah rukhy, mudzakarah-mudzakarah, kajian kalam ilahi yang terus kita hidupkan di tengah-tengah para pendidik agar kita terus bisa memperbaiki diri sebagai pribadi muslim. Pribadi yang memiliki orientasi ukhrawi, sehingga menjalankan dengan konsep islami, tergambar dalam semua sikap dan perilaku kita. Tutur kata dan tindak tanduk kita. Maka akan terlihatlah kebaikan dan keindahan dalam setiap sesuatu.

Cinta dengan dakwah. Dakwah berasal dari kata da’a yang bermakna mengajak. Mengajak tentunya ruang lingkupnya banyak diantaranya tentu ada dua hal yaitu bil hal atau bil lisan. Kalau kita berbicara cinta semangat perubahan  tentu ada pengorbanan karena itulah penulis mengawalinya dengan cinta. Pengorbanan yang diawali dengan cinta akan melahirkan keindahan, kenikmatan dan kebahagiaan bukan penderitaan. Sebagai seorang guru tentu kita memandang kedepan karena kita memiliki visi perubahan. Perubahan hari esok lebih baik dari hari ini. Kawan-kawan Rasulullah telah memberikan kita garisan ” Sebaik baik orang yang berjalan dimuka bumi adalah oarang yang belajar dan mengajar.”                                                 خيريمشى فى الارض المعلم والمتعلم

 

Oleh : Ust. Al-Anshori, S.Pd

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay