Pergilah Ragu

Ada yang berbeda malam ini. Sebuah hal yang bahkan bukan menjadi angan-angan sebelumnya. Alhasil terjebaklah diantara perasaan yakin dan tidak yakin, “apa bisa?”. Tapi sepertinya Tuhan sedang menjawab satu dari sekian banyak doa, yaitu untuk mendapatkan pekerjaan yang baik.

Langkah pertama itu berat katanya, ditambah lagi dengan adanya perasaan ragu. “Apa yang memberatkan? Mengapa ragu?”. Pertanyaan ini terus menerus berotasi dalam pikiran selama beberapa hari. Sampai akhirnya terjawab, “aku terlalu banyak pertimbangan, ketakutan akan ini itu perihal urusan dunia”. Sadar bahwasannya hidup tak bisa stuck pada satu keadaan saja maka ada pola pikir yang perlu diubah. “Coba!”, kata hati.

Di sinilah semua perubahan itu diusahakan. Mulai dari belajar melakukan apa yang seharusnya dilakukan sampai meninggalkan apa yang seharusnya ditinggalkan. Aku harus berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu sampai pada akhirnya yakin jika semua ini memang sudah jadi takdir-Nya. Karena benar saja, untuk menjadi baik kadang harus dengan paksaan. Well, saatnya menjalani kehidupan yang baru. Siap?

Pukul 7 pagi – kali pertama untuk bertemu dengan teman-teman kecil. Gema suara mereka memenuhi setiap sudut bangunan dan sudah jelas berhasil membuat gugup ini menjadi-jadi. Tapi semua seketika redam. Senyum sapa dan salam merekalah yang jadi alasannya.

Dari hari satu ke hari yang lain rasanya begitu cepat. Sampai datang sebuah amanah untuk bekerjasama memegang dan mengelola kelas baru. Segala sesuatunya mulai dipersiapkan. Sampailah pada hari–H yaitu bertemu dengan teman-teman baru yang sejak dua bulan lalu masih jadi rahasia. Satu per satu masuk ke dalam kelas. Euphoria menjadi anak kelas satu dijenjang sekolah dasar nampak sangat jelas. Tidak mau terlihat canggung di depan mereka. Kubangun kepercayaan diri semaksimal mungkin. Dua bulan menjadi waktu yang cukup singkat untuk belajar berbicara dan bersikap di hadapan banyak anak karena treatment terhadap mereka juga berbeda. Tidak memakan waktu lama, mereka dengan pandainya mengambil hati. Pun memberi jalan masuk untuk menjadi bagian dari mereka.

Delapan jam dalam sehari dengan segala aktivitas yang dilakukan bersama anak-anak hebat ini membuatku menemukan adanya ‘zona nyaman’. Bukan hanya sekedar mengajar namun dari mereka pula aku banyak belajar. Semangat mereka adalah candu buatku. Pernah kudengar sesekali orang bilang ‘separuh waktumu akan kamu habiskan di tempat kerja, jadi cintailah pekerjaanmu’. I did it!

Oleh : Febry Tresnaning C,S.Pd

 

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay