Gadget dan Kita

Kemajuan teknologi berkembang sangat pesat dewasa ini. Siapa yang tidak mengenal gadget? Anak-anak, kaum muda, dan orang tua semua menggunakan teknologi yang sudah merasuk dan boleh dikatakan menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari. Semua sudah merasakan kemudahan dalam berteknologi.

Bahkan ada sebagian orang yang lebih baik rela tertinggal dompetnya dibandingkan tertinggal  gadgetnya. Kita hidup di zaman berkembang, dimana semua elemen masyarakat berlomba untuk menjadi pelopor dalam penggunaan teknologi baru. Karena tidak sedikit orang yang rela indent produk-produk ternama dengan harga yang tidak murah.

Terlepas dari kecanggihan teknologi yang ada serta kemudahan-kemudahan yang di dapat dalam penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari. Ada perasaan cemas sekaligus takut, terlebih jika kita lihat banyak orang tua yang memberikan fasilitas gadget kepada anaknya bukan hanya anak yang sudah bersekolah tetapi anak bayi pun ikut mendapatkan fasilitas ini.

Fitur-fitur canggih serta kemudahan bersosial media dapat diikuti pada semua kalangan. Sementara itu, banyak oknum yang tidak bertanggung jawab menyisipkan konten-konten yang bermuatan negatif bertebaran di jaringan dunia maya.

Sampai kapan generasi penerus akan terus terjajah oleh gadget ini? Kita tidak bisa menghentikan perkembangan teknologi, karena hidup memang selalu mengalami perubahan. Tapi perubahan seperti apa yang kita inginkan? Sanggupkah kita memberikan perubahan?

Hal kecil dimulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga, membiasakan untuk dapat berkumpul bersama, mengadakan kegiatan bersama tanpa gangguan gadget. Aktivitas outdoor misalnya dapat menjadi alternatif yang baik bagi kita terlebih untuk anak-anak. Selain itu, aktivitass tersebut dapat menciptakan bounding terhadap anggota keluarga yang satu dengan yang lain.

Lalu, bagaimana jika orang tua sibuk bekerja? Terkadang kita lupa tujuan utama kita bekerja untuk siapa. Untuk keluarga bukan? Jadikan keluarga menjadi prioritas utama jika hal ini sudah menjadi tujuan kita. Apakah pekerjaan kita akan tetap dijadikan alasan? Pembiasaan baik yang dilakukan di dalam lingkungan keluarga diyakini akan membentuk suatu sinergi yang mendalam dan membekas di dalam pribadi masing-masing terutama pada anak. Sehingga kita tentunya dapat dengan mudah berinteraksi di luar lingkungan keluarga seperti lingkungam sekolah dan lingkungan masyarakat.

Mari kita sama-sama mewujudkan generasi yang paham akan nilai-nilai agama, sopan santun, bermasyarakat, berwawasan serta berempati dimulai dari lingkungan keluarga. Karena 1000 langkah sukses tidak akan terjadi tanpa langkah pertama.

 

Oleh : Helen Oktrilia

 

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay