Cerita itu bermula dari sini… (Part 2)

Pengumuman ketua rohis baru yang telah dipilih telah terpasang. Sontak papan pengumuman sekolah ramai pagi ini. Wajah Genta terpampang dalam ukuran 10R beserta profil dirinya.

“Wah, gak nyangka  Genta sekarang jadi ketua rohis” ucap Radit bangga.

“Hooh, aku juga gak nyangka. Genta sahabat kita itu. Anak paling jahil dan gila itu jadi ketua rohis. Pengen tepuk tangan aku tapi gak bisa”, timpal Benu yang kala itu sedang asyik mengunyah kuenya.

“Yeeee ..gimana mau tepuk tangan lu gendut! Makan aje lu banyakin” kesal dan gemas Zeta merebut kue yang Benu pegang

Eh, ngomong-ngomong ada pengumuman kayak gini Genta kok gak kasi-kasi kabar ke kita ya? Alesha juga. Pasti dia udah tahu soal ini kan ya. Secara yang membuat pengumuman kan dia coy”

Zeta bingung ada apa dengan dua sahabatnya ini. Biasanya ada pengumuman apapun mereka pasti tahu lebih dulu dari Alesha.  Meski pengumuman itu belum dipasang di papan pengumuman sekolah. Dan ada berita apapun yang menyangkut diri mereka baik senang ataupun sedih.  Apalagi berita yang membanggakan seperti terpilihnya Genta jadi ketua Rohis pasti diberitahukan langsung kepada mereka sebelum orang lain tahu. Zeta, Radit, dan Benu tambah bingung lagi, dua makhluk yang mereka bicarakan belum muncul juga sedari tadi untuk menjelaskan hal yang tidak biasanya menurut mereka ini.

“Saya belum cerita ya sama kalian. Beberpa hari yang lalu, saya ajak Genta main PS di rental dekat warung bu Menik yang anaknya cantik itu” Sambil senyum-senyum Radit bercerita.

“hadeehh.. Aya Namanya Dit” gemas Zeta menoyor Radit.

“Yaya si Aya hahaha… lanjutnya. Biasanya kan Genta semangat sekali tuh kalau saya ajak main PS apalagi kalo di rental yang itu. Terus tumben sekali Genta tidak mau ikut. Alasannya ada acara keluarga. Terus saya tanya acara keluarga apa, Ta? Secara kalau ada makan-makan gitu kan kita diajak ya biasanya.”

“Aku juga mau ikut kalau makan-makan” sontak mata Benu berbinar.

“Itu ceritanya, ndut. Makan aje lu denger.” Dengan kesal Zeta minta Radit meneruskan ceritanya.

“Kata Genta, ada acara keluarga aku. Setelah itu sambungan telephone saya ditutup tut ..tut ..tuuutt ..singkat cerita keesokan paginya si Abror tetangga rumahku yang anaknya sholeh itu kalian tahukan? Yang suka sekali menginap di Masjid atau Mushola-mushola terdekat. Entah anak itu kembar berapa, heran saya setiap Masjid atau mushola wajah dia selalu ada disana.” Ingat Radit heran.

“Ya gue tahu. Yang anaknya kemana-mana pake peci kupluk putih itu kan?” timpal Zeta.

“Kau Zi, gak makan micin pun kau punya otak macam isi ciki. Peci ya peci. Kupluk ya kupluk. Jangan kau samakan peci dengan kupluk. Peci kau pakai di kepala, kupluk kau kunyah” kata Benu sengit.

“Heh, gendut! Yang otaknya micin doang itu satu-satunya Cuma elu! Yang elu maksud di kunyah itu bukan kupluk tapi kerupuk!” Dengan gemas Zeta dan Radit meninju perut buncit Benu. Mereka tertawa ngakak melihat kepolosan Benu si anak Medan yang gemar sekali ciki.

“Jangan bilang peci juga bisa kamu kunyah Ben.” Kata Radit sambil tertawa.

“Leci maksud kau, Dit? Aaahhh ..itu sih sudah tahu aku. Lelucon basimu itu. Otakku walaupun banyak micin masih ada pun yang terselamatkan. Walaupun Cuma 2,5 persen.” Sahut Benu bangga

“Zakat kaliiii dua setengah persen!”, mereka bertiga pun tertawa terbahak-bahak.

Sambil memegang perut karena sakit setelah tertawa terpingkal-pingkal, Radit melanjutkan ceritanya. “Kata si Abror itu, semalaman dia di mushola dekat perumahan Bukit Indah itu Bersama dengan Genta. Dilihatnya Genta khusyuk sekali sholat malam dan berdoa di sana. Katanya saking khusyuknya Genta, dia sampai menangis dalam sholat dan doanya. Setelah itu Genta ber-dzikir lama sekali.”

“Lha, si Abror sedang apa pula dia di sana? Mengapa dia sibuk memperhatikan Genta? Takjub dia sepertinya sampai dia lupa bahwa dia harus sholat.” Kata Benu ketus.

“Fokus sama Gentanya, Benu. Tak usah si Abror yang kau urus.” Sahut Radit menirukan logat medan Benu. “Dia mau cuma numpang berteduh kek atau cuma mau nongkrong kek lagian di sana kan ada wifi gratis. Jadi tidak perlu lah si Abror itu kamu pusingkan.” Lanjut Radit.

“Genta sudah benar-benar berubah.” Pikir Zeta.

Tidak terasa hari kelulusan semakin dekat. Mereka, lima sekawan semakin jarang bertemu. Semua memiliki kesibukan sendiri. Ujian kelulusan sudah di depan mata. Mereka sibuk dengan materi-materi yang harus dipelajari untuk ujian. Belum lagi mereka sibuk memilih universitas mana yang ingin mereka masuki setelah lulus SMA.

Alesha yang ingin sekali mengasah keterampilan melukisnya memilih untuk keliling Italia dan Perancis untuk mencari Universitas Seni terbaik. Zeta yang sejak dulu tertarik dengan dunia kedokteran ingin masuk  Universitas Kedokteran terbaik di negeri paman Sam. Radit sendiri yang begitu tergila-gila akan dunia sastra, memilih mencari Universitas terbaik di negeri ini. “Negeri ini tidak miskin akan sastranya. 17.504 pulau dan beribu-ribu suku dan budaya Negeri ini miliki tidak menjadikan negeri ini miskin akan satra.

Justru karena jumlah yang besar itu menjadikan Indonesia salah satu negeri yang memiliki sastrawan-sastrawan terbaik seperti Khairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Taufiq Ismail, Ahmad Tohari dan masih banyak lagi. Jadi tidak perlulah keluar negeri. Indonesia ini penuh dengan orang-orang yang berilmu. Dan aku salah satunya.” Dalih Radit.

Benu, anak Medan yang gemar makan micin akan memilih kuliah ilmu hukum di luar negeri. Dengan dorongan motivasi sang ayah yang merupakan seorang pengacara terkenal di negeri ini. Benu memilih universitas dengan cepat. Sedangkan Genta menerima Beasiswa di Universitas Indonesia dengan sangat baik.

Mereka begitu disibukan dengan ujian kelulusan dan ujian masuk universitas yang mereka pilih. Sehingga tidak terasa sudah hampir enam bulan lamanya mereka tak bertemu atau nongkrong Bersama walau sekedar menertawakan kekonyolan Benu.

Alesha yang saat ini sedang berjalan-jalan di sepanjang jalan kota Roma, mengingat-ingat kekonyolan sahabat-sahabatnya itu. Dan oh, betapa rindu sekali dia akan sahabat-sahabatnya. Alesha pun teringat terakhir kali ia bertemu Genta untuk mengucapkan selamat untuknya.

“Ta, selamat yaa” dengan senyum sumringah Alesha mengulurkan tangannya untuk memeluk Genta, sahabatnya.

“Makasi, Sha.” Jawab Genta dengan senyum tipis lalu berpaling.

Terpaku Alesha menatap punggung Genta yang menjauh. Dengan hati sedih Alesha menurunkan kedua tangannya yang sudah siap memberi pelukan selamat kepada Genta tadi. “Ah, mungkin Genta ada masalah dan ingin sendiri dulu.” Pikir Alesha.

Sehari setelahnya Alesha mengirimkan pesan singkat kepada Genta setelah sehari itu Genta tak kunjung mau bertatap muka dengan Alesha. Dengan hati yang sedih sekaligus marah Alesha bertanya kepada Genta.

“Ta, lu kenapa sih? Lu akhir-akhir ini aneh deh. Jangan bilang lu kena star syndrome. Mentang-mentang sekarang nama lu udah sangat popular dikalangan cewek-cewek centil sekolah lu jadi menjauh dari gue dan yang lain.” Ketik Alesha dengan jengkel.

Sehari berlalu pesan singkat Alesha tak kunjung dibalas Genta. Alesha berkeliling sekolah berharap menemukan Genta di suatu tempat. Di kelasnya, ruangan Rohis bahkan tempat favorit Genta belakangan ini, mushola, Genta pun taka da. Belakangan Alesha tahu dari Dika kalau Genta ada pertemuan Rohis antar sekolah yang bertempat di sekolah tetangga.

“Assalamualaikum, Gentanya ada Tante?” karena berhari-hari Alesha tak kunjung bertemu Genta dan pesan singkatnya yang sampai hari ini tak ada balasan, Alesha pun menemui Genta di rumahnya.

“Waalaikumsalam. Eh, Alesha apa kabar cantik? Genta ada tuh di kamarnya. Sebentar Tante panggilkan ya.” Setelah salim dan berbincang sebentar dengan ibunya Genta, Alesha dan Genta pun ditinggal untuk ngobrol di ruang tamu.

“Oke, gue langsung aja Ta. Lu kenapa sih? Lu kesannya menghindar gitu dari gue. Gue punya salah ya sama lu? Bahkan WA gua pun lu abaikan. Lu tu seakan-akan kayak artis-artis instans di TV  yang kena star syndrome gitu. Yang gue gak ngerti kenapa kita temen-temen lu ini yang jadi korban ke-ngartisan elu!” Tanya Alesha kesal.

“Udah, Sha?. Pertama kurasa aku gak sepopuler kamu sampai harus terkena syndrome itu. Aku cuma orang biasa yang kebetulan diberi amanah jadi ketua Rohis yang kepengurusannya masih di bawah OSIS.” Jawab Genta santai.

“Terus kenapa elu ngindarin gue, Zeta, Radit, dan Benu?” Alesha masih kesal.

“Aku gak menghindar dari kalian Alesha. Memang keadaan yang harus seperti itu.”

“Keadaan yang seperti apa maksud lu?”

“Sha, kita ini sudah bukan anak kecil lagi. Kita bisa dibilang sudah dewasa. Jadi karena keadaan kita yang bukan anak-anak lagi menjadikan keadaan yang menurut kita biasa menjadi tidak biasa lagi, Sha. Sederhananya, aku masih teman kalian, Genta. Tapi aku juga bukan Genta yang dulu. Semua berubah, Sha. Bahkan pohon yang hijau saja berubah menguning.

Kamu pun berubah, Sha. Kamu, Zeta, Radit dan Benu tetap teman ku. Tapi kita tidak bisa seperti dulu lagi. Suatu saat nanti kamu akan mengerti bagaimana perubahan itu sangat berarti di hidupmu. Kita memang teman, tapi teman tidak hanya fisik yang harus selalu ada bukan? Kita tetap teman tapi memang tidak akan sama seperti dulu.

Biarkan kekonyolan kita, ketidaktahuan kita akan perubahan itu menjadi bagian terbaik dalam kisah remaja kita. Tidak perlu kita nodai dengan rasa cemburu kita akan perubahan yang membuatnya tak sama lagi. Biarkan bagian itu berkilau seperti adanya tanpa campur kita untuk meredupkannya. Biarkan kita tetap menjadi teman baik. Teman baik yang saling tolong menolong sampai ke Syurga-Nya nanti, InsyaAllah.”

Tak terasa air mata Alesha jatuh mengalir ke pipinya mengingat kata-kata terakhir Genta saat itu. Sambil terus berjalan mengitari kota Roma Alesha berharap dalam hatinya “Semoga Allah memberikan jalan kembali bagi persahabatan mereka.”    Bersambung…

 

Oleh : Fitri Arissia Padillah, A.Md

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay