FITRAH ANAK ITU BAIK

Fitrahnya, anak-anak mudah bangun dan beraktifitas di pagi hari. Seiring dengan pertumbuhan bayi, akan ada masa dimana mereka senang bangun sebelum subuh. Tapi kebanyakan dari orangtua menidurkan mereka kembali agar bisa beraktivitas. Padahal, bangun sebelum subuh itu sehat, dan ini adalah fitrah agar mereka sampai dengan dewasa senang dan terbiasa bangun sebelum subuh.

Jadi, jangan mengeluhkan anak-anak yang susah dibangunkan pagi, kalau ketika saat kecil mereka bangun pagi disuruh tidur lagi.

Fitrahnya pula, anak seharusnya mampu menjadi pembelajar terbaik, dan belajar yang baik-baik.

Di usia dini, bukan cuman lengket, tapi apapun yang orang tua lakukan, anak-anak ingin tiru dan pelajari.

Merekalah sang peniru ulung. Mereka belajar cara bicara, sesuai dengan kita, hingga pada nada titik koma juga nada suara. Mereka melihat kita makan, minum, menggosok gigi. Mereka ikut kita sejak bangun pagi, shalat, mandi, dst. Mereka merekam dan meniru.

Sayangnya, justru terkadang orangtualah yang mengajarkan hal negatif.

Bagaimana dengan hukuman?

Secara fitrah, anak-anak selalu ingin belajar menjadi lebih baik, bukan lebih nakal.

Hukuman kadang tak terkait dengan apa yang mereka lakukan. Tapi konsekuensi adalah membuat mereka mengerti efek terhadap suatu perbuatan yang mereka lakukan.

Karena meskipun mereka anak kita, dan masih kecil, dan nggak mempunyai power, percayalah, mereka sudah punya perasaan sejak mereka lahir. Mereka adalah anak hebat yang memiliki fitrah cinta dan kasih sayang.

Tugas kitalah untuk menemani proses belajarnya dengan penuh kesabaran, memberinya nasehat di waktu-waktu terbaik ketika mereka mampu menerimanya. Bukankah kita yang dewasa pun banyak melakukan salah dan lebih suka diberi tahu dengan baik-baik, tanpa hukuman, bentakan, apalagi dipermalukan? Padahal, orang dewasa sudah dihisab oleh Allah, dan semua kesalahan anak tak dianggap dosa oleh Allah.

Di era sekarang, banyak sekali anak-anak baligh di usia dini, namun secara akil masih jauh tertinggal. Padahal, ketika mereka baligh, secara otomatis berbagai kewajiban dan kesalahan menjadi konsekuensi tanggung jawab mereka pribadi.

Sumber : Millenial Learning Center

Oleh : Agus Hariyadi

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay