Membeli Hak

Seorang anak usia kelas 1 SD, berumur sekitar 7 atau 8 tahun selalu merengek kepada ayah dan ibunya untuk menuruti apa saja yang diinginkannya. Bila ada penjual es krim lewat di depan rumahnya, ia akan berteriak memanggil ibunya. Lain waktu, penjual boneka melintas di depan rumahnya, dan anak itu refleks memanggil ayahnya.

Sekali dua kali, keinginannya dipenuhi. Namun, melihat peluang tersebut si anak justru memanfaatkan keadaan. Bila memanggil ayah atau ibunya tak segera menjawab keinginannya, ia akan mulai merengek, dan terakhir ia akan menangis dan merajuk tidak mau bicara. Bahkan tidak mau makan seharian manakala keinginannya tidak terpenuhi.

Kejadian tersebut berlarut hingga si anak duduk di bangku kelas 3. Saat ia hendak mulai kebiasaannya ketika penjual sesuatu lewat lagi di depan rumahnya. Ibunya segera mendahuluinya, “Coba nak, jika kamu menjadi anak yang rajin, mau membantu ayah atau ibu tanpa disuruh, kami pasti dengan senang hati membelikan apa yang kamu suka. Tapi jika terus menerus seperti ini, ketika ada sesuatu yang kamu inginkan kamu minta dengan cara merengek, menangis, dan memaksa, ayah ibu tidak akan menuruti lagi keinginanmu.”

Sekali, dua kali cara itu berhasil. Ketiga kali, karena si anak merengek lebih keras, ayah ibunya tak tahan dan akhirnya luluh dengan permintaan si anak. Kali keempat, ayah ibunya kembali bertekad untuk mengubah kebiasaan anaknya.

Kali ini, ayah ibunya bersifat agak keras hingga menyebabkan si anak mogok bicara selama 3 hari. Perlahan, sejak 3 hari si anak mogok bicara, ia mulai berubah. Ia tak lagi merajuk dan merengek ketika meminta sesuatu. Tapi, ia akan mengerjakan sesuatu untuk membantu pekerjaan orang tua untuk kemudian ia tagihkan “bayarannya”. Mulanya, si anak terlihat begitu sulit untuk melawan keinginan yang biasanya ia luapkan begitu saja.

Lama kelamaan, anak ini mulai menyadari sesuatu. Apa yang dikatakan oleh ayah ibunya benar. Tanpa ia minta sekalipun, ketika ia rajin membantu ayah ibunya mengerjakan apapun, terkadang ada hadiah-hadiah kecil yang diberikan oleh ayah ibunya. Hingga suatu hari ia berkata kepada ibunya, “Bu, ibu dan ayah benar. Jauh lebih menyenangkan kalau aku mendapat hadiah dari mengerjakan kewajibanku daripada aku harus terus-terusan memintanya.”

Maka, siapapun kita, apapun profesi kita, sangat penting bagi kita untuk dapat mengerjakan kewajiban kita dengan baik. Ketika hal tersebut terpenuhi, sesuatu yang menjadi hak kita akan datang dengan mudah. Wallahu’alam.

Eka Jana Walianingsih, S.TP

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay