Ilmu Manakah yang Kita Harapkan, Ayah Bunda…

Pagi cerah di sebuah desa subur di lereng gunung. Tinggallah keluarga yang jauh dari kata melimpah harta. Keluarga tersebut dikaruniai seorang putri yang bernama sholihah. Sholihah anak yang ramah, rajin, dan sangat cerdas. Sholihah kini berusia 8 tahun, karena keterbatasan ekonomi dan menghadapi zaman serba modern. Sekolah memang tidak sekedar keinginan, melainkan harus diimbangi dengan material. Oleh sebab itu, sampai saat ini, Sholihah masih belum bersekolah. Namun, Sholihah tak patah semangat untuk belajar, dia berusaha belajar dari ibunya meskipun hanya setitik ilmu yang bisa di ajarkan ibunya.

Ayah Sholihah seorang yang rajin tanpa lelah. Selepas sholat shubuh diambil peralatan berladangnya bergegas ia menuju pertarungan untuk mendapatkan upah. Prinsipnya, apa yang dia dapatkan hari ini adalah rizki yang amat berharga dari Allah SWT. Sang ibu juga tak kalah perjuangannya, selepas menyiiapkan makanan sederhana dari dapur usangnya dia bergegas menuju lahan garapan suaminya untuk berladang. Kadang-kadang sholihah ikut serta mendampinginya.

Suatu malam percakapan di rumah sederhana itu diawali sang ayah yang membuka wacana, “ Nak, usiamu sudah menginjak 8 tahun. Namun, engkau belum bersekolah juga, insyaallah tahun depan tabungan ayah cukup untuk mendaftarkannmu ke sekolah, Nak”.

“Aku bersekolah yah, terima kasih yah,… insyaAllah aku akan berusaha yang terbaik” jawab Sholihah. Sang ibu hanya dapat tersenyum bahagia.

Hari – haripun berlalu dengan cepat. Kini, tiba tahun ajaran baru di sekolah sebrang lereng gunung dibuka. Sang ayah hari ini berlibur sejenak dengan kegiatan berladang untuk mengantar anaknya mendaftar sekolah. Sungguh riang hati Sholihah, sebentar lagi ia akan menjadi murid di Sekolah Dasar. Meskipun jarak tempuhnya dengan berjalan kaki. Hal itu tidak masalah baginya.

Lereng gunung sudah tersebrangi. Perjalanan Sholihah menuju sekolahnya hampir dekat. Kini, ia tinggal melewati satu desa lagi, di tengah perjalanannya melewati desa tersebut, mata sholihah tertuju pada seorang anak yang menangis di pojok sebuah rumah reyot di ujung desa.

“Ayah boleh kita berhenti sejenak”, pintanya kepada ayahnya,

“ Kenapa nak, apa kamu capek”, jawab ayah. “ bukan yah, aku tak tega melihat anak itu menangis”, “ bolehkah kita menghampirinya” pinta sholihah.

Sang ayah tak menghiraukan permintaan anaknya. Ia menuju anak tersebut. “        Assalamualaikum nak, kenapa kamu menangis, ibumu di mana? “ tanya ayah. Si anak semakin menangis menderu.

“Nak, boleh bapak tahu kenapa kamu menangis, apa ada yang bisa bapak bantu”. Tanya ayah sekali lagi. Sang anak terisak, kemudia dia menjawab,

“Ibuku sakit pak, aku ingin membawanya ke puskesmas tapi kami tidak punya apapun untuk membayar biayanya. Dari dua hari yang lalu aku minta tolong kepada orang yang lewat di sini, tapi mereka hanya memberi kami makanan”, aku ingin sekali membawa ibuku untuk berobat pak, tapi tidak ada yang membantuku, sahut si anak”.

Ayah diajak masuk rumah si anak. Di sana hanya terdapat satu ruang,  si ibu berbaring tak sadarkan diri, Ayah menangis melihat kondisi ibu itu. Ia juga dilema, apa yang harus dia lakukan, jika dia membantu keluaraga anak ini otomatis uang tabungan untuk mendaftarkan anaknya sekolah tidak cukup lagi.

Tiba – tiba Sholihah bersuara, “ Ayah kenapa menangis”. “ Nak ayah boleh bertanya” tanya ayah.

“Jika sekolah Sholihah ditunda sampai tahun depan boleh? uang yang sudah kita tabung kita buat untuk berobat ibu dari teman Sholihah”. Sungguh ayah terkejut mendengar jawaban Sholihah ”Ayoo yah segera kita bawa ibunya ke puskesmas untuk berobat”, “ Sholihah masih bisa belajar banyak hal dengan ibu di rumah. Tapi, jika kita tidak menolong ibu ini, kasihan teman Sholihah mungkin akan tidak punya ibu lagi” sahut anak yang masih usia 8 tahun yang sungguh mulia.

Ayah memeluk Sholihah erat. “Sungguh meskipun engkau belum sekolah tapi engkau banyak belajar hal yang lebih berharga dari sebuah bisa baca, menulis, dan berhitung di sekolah. Wahai anakku ilmu akademik memang penting bagimu, tapi yang terpenting bagi ayah ilmu yang sudah kau tunjukkan ini, dan ilmu inilah yang membuatmu disayang oleh Allahmu.

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay