Pangan, Budaya, dan Simbol Kemapanan

Seperti yang diketahui bersama, manusia pasti selalu membutuhkan makanan sebagai pasokan energi untuk melakukan kegiatan sehari-hari. tentunya makan juga merupakan kegiatan yang wajib dilakukan agar tetap hidup. Makan, secara general diawali dengan mencuci tangan sebelum makan dan tak lupa berdoa agar makanan yang dimakan menjadi berkah. Makanan masuk ke dalam mulut, kemudian makanan tersebut dikunyah oleh gigi-gigi dan dialirkan ke lambung melalui kerongkongan. Secara garis besar makanan melewati proses biologi yang dialami setiap manusia.

Di beberapa daerah di Indonesia, makan dapat menjadi sebuah tradisi. Contoh paling sederhananya ketika lebaran Idul fitri. Orang-orang akan silaturahim ke rumah-rumah saudara dan teman kemudian dipersilahkan makan. Makan pada saat momen ini hukumnya sunah artinya kalau tidak memakan makanan saat itu mungkin akan menyinggung perasaan sang pemilik rumah. Mau tidak mau, suka tidak suka, sudah kenyang maupun belum, mereka harus makan menu yang dominan sama yaitu opor ayam. Menarik sekali bukan? Dari kasus di atas dapat disimpulkan bahwa makan merupakan suatu tradisi.

Namun, di jaman super cepat saat ini, makan bukan hanya suatu kegiatan biologis manusia saja. Dengan media sosial yang canggih, orang-orang dapat tahu apa yang kita makan dengan menyebarkan foto makanan yang kita makan. Orang-orang kaya dapat makan di restoran mahal dan meng-upload foto mereka di media sosial dan orang-orang akan tahu bahwa kelas makanan berada di level tinggi. Lain hal dengan kelompok orang ekonomi menengah dan ekonomi ke bawah. Di era narsis saat ini, memfoto makanan sebelum dimakan menjadi hal yang wajib agar orang lain mengetahui apa yang sedang kita makan. Apabila begitu, makan dapat kita sebut sebagai sebuah simbol kemapanan.

Namun terlepas dari itu semua, dalam Islam makanan merupakan tolak ukur yang dapat mempengaruhi segala perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT mengatur dalam Al Quran mengenai hukum makanan maupun cara yang digunakan untuk mendapatkan makanan tersebut. Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim, sebaiknya dapat menjaga diri dari pengaruh makanan haram dan syubhat serta tidak terjebak dengan tren budaya memfoto makanan. Wallahu’alam bissawab

Oleh : Mela Agustina

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay