Peran Ayah, Seberapa Pentingkah?

Ayah, seorang lelaki sebagai simbol jagoan bijak oleh sebagian besar anak di dunia ini. Sosok yang tak pernah mengeluh dalam berpeluh keringat. Sosok yang tak pernah pantang menyerah dalam mencari nafkah. Sosok yang tak pernah lepas dari untaian senyum meski lelah mendera. Sosok yang tak pernah sedikitpun kesal jika pundaknya dijadikan tempat untuk berdiri tegak oleh anak-anaknya.

Ayah, adalah sosok lelaki yang begitu dihormati dan disegani oleh sebagian besar anaknya. Namun, tak jarang juga seorang ayah menjadi orang yang dibenci oleh anak-anaknya. Banyak faktor yang melatarbelakanginya.

Ayah, tahukah engkau jika peranmu dalam mendidik buah hatimu itu begitu penting dan memiliki dampak yang begitu dahsyat. Ayah, sungguh anak-anak adalah potret siapakah dirimu. Jika engkau Ayah selalu mengajak anak lelakimu sholat jamaah di masjid, maka engkau menjadi Ayah yang sangat beruntung karena kelak engkau akan didoakan oleh anakmu yang selalu memakmurkan masjid. Ayah, jika engkau mengajak anak laki-lakimu sholat berjamaah ke masjid sambil mengatakan “Nak, Alloh Swt sangat mencintai orang yang selalu memakmurkan masjid”, maka engkau menjadi ayah yang sangat bahagia karena kelak anakmu akan mengantarkanmu menuju surga tertinggi-Nya.

Ayah jika engkau sebagai seorang Imam mengajarkan anak perempuanmu untuk selalu menutup auratnya tidak semata-mata sebagai kewajiban agama, namun sebagai ciri dan identitas sebagai seorang muslimah. Maka beruntunglah ayah jika kelak engkau akan dirawat oleh anakmu yang takut akan Tuhan-Nya. Ayah, jika engkau sebagai seorang kepala keluarga, selalu mengajak istrimu untuk mendekatkan diri kepada Alloh Swt dan mengajarkan istrimu menutup auratnya maka bersyukurlah ayah, bahwa engkau menjadi lelaki yang yang layak mendapatkan surga-Nya.

Ayah sudah sepatutnya engkau mencontoh bagaimana Lukman dan Ibrahim mendidik putranya yang begitu lembut, baik, dan senantiasa mengajak berfikir, dan selalu mendekatkan pengajaran pada Alloh Swt sebagai Dzat yang patut disembah.

Ayah, sudah kah setiap hari engkau peluk putra-putrimu dan engkau ucapkan “I Love U, Nak”, “Ayah sayang kakak/adik”, maka secara tak sadar anakmu akan berubah menjadi anak yang begitu juga kepadamu.

Ayah jangan pelit untuk sekedar memuji putra-putrimu. Karena pujian itu yang akan memberikan kepercayaan diri pada buah hatimu. Ayah jangan segan-segan untuk menegur buah hatimu jika buah hatimu jauh dari nilai-nilai agamamu yang selama ini engkau pelajari.

Ayah kasih sayang pada putra-putrimu tak cukup hanya limpahan materi yang engkau berikan pada mereka. Namun, lebih pada sentuhan emosional. Lebih pada sentuhan ucapan, dan perasaan yang mendalam yang sangat mereka butuhkan. Di saat yang lain sudah melupakan ini. Maka, mulailah Ayah untuk melakukan ini. Beruntunglah bagi engkau ayah jika sudah setiap hari melakukan ini. Dan masiha da kesempatan bagimu ayah jika engkau belum melakukan hal-hal di atas kepada putra-putrimu.

Bersyukurlah jika setiap hari dan sebelum tidur engkau membacakan buku pembangun jiwa bagi putra-putrimu. Bersyukurlah ayah jika engkau setiap hari bisa bercanda dengan putra-putrimu pada malam sebelum mereka tidur pulas. Tak masalah, wajahmu terlihat jelek di depan anakmu asal anakmu senang melihat engkau bercanda. Tak masalah tingkah polahmu aneh jika di depan anakmu engkau adalah teman yang sangat asyik diajak bermain.

Ayah, bersedihlah jika engkau setiap hari menjejali gadget pada anakmu. Karena secara tidak langsung engkau yang menanamkan benih-benih kebodohan dan kemalasan pada buah hatimu sendiri. Ayah, bersedihlah engkau jika anak lelakimu tak pernah engkau ajak ke masjid. Ayah, bersdihlah engkau jika anak perempuanmu tak pernah engkau ajarkan untuk latihan menutup aurat. Ayah, bersedihlah engkau, jika anak-anakmu tak pernah engkau ajarkan makan dan minum menggunakan tangan kanan.

Ayah, peranmu begitu penting dalam mengantarkan putra-putrimu menjadi apa. Ayah, peranmu begitu diperhitungkan dalam menjadikan putra-putrimu seperti apa. Ayah, cukuplah kesalahan masa lalu dalam pengasuhan orang tua kita dahulu, tak akan kita bawa dalam mendidik anak-anak generasi kita, generasi masa depan bangsa dan agama kita. Ayah, jika memang dahulu engkau dibesarkan dengan cara yang keras. Cukuplah itu kita yang merasakan. Jangan engkau lakukan itu pada buah hatimu.

Bersyukurlah ayah, jika engkau dibesarkan oleh orang tua dengan kelembutan baik tutur kata maupun lakunya. Namun, jikalau kekerasan fisik itu engkau alami. Maka, bairlah itu menajdi kenangan indah bagimu. Dan biarkan anakmu menikmati hari-harinya bersamamu dengan kelembuan dan kasih sayang.

Ayah, selamat berjuang menjadi ayah yang hebat untuk buah hatimu. Ayah, selamat berjuang mengantarkan buah hatimu menjadi pemimpin masa depan kelak di jamannya.

 

Oleh : L-Wida

 

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay