Mendidik Anak Dengan Al Quran dan As Sunah

Anak zaman sekarang mungkin akan berbeda dengan zaman tahun 80 dan 90an. Misalnya saja…, di zaman 80 dan 90-an kita masih bermain sesuatu yang sangat sederhana, apapun bisa kita jadikan mainan, misalnya saja karet tali, pecahan genting, sandal jepit, kardus bekas, bahkan sampai tongkol jagungpun dapat dijadikan media bermain.

Sedangkan anak zaman sekarang yang sering dijadikan mainan adalah gadget, tablet, laptop, Kenapa ya?. Karena zaman 80 dan 90-an gadget dan tablet belum ada, laptop masih mahal. Mungkin  kalau zaman dulu sudah ada gadged, kita akan main gadget juga, tentu saja dengan izin dari orang tua. Akan tetapi… orang tua zaman dahulu akan mengizinkan tidak ya?

Karakter orang tua zaman dahulu jarang sekali yang bersedia menyediakan mainan mahal, mereka lebih cenderung memperhatikan dengan sangat kualitas akhlaq sang buah hati. Mereka sibuk dengan membimbing akhlaq sang buah hati dari pada sibuk di tempat kerja.          Mereka pulang kerja tepat waktu dan diusahakan selalu membawa buah tangan. Buah tangan yang murah tapi berbobot. Apakah itu? buku bacaan, turutan atau iqro, kue, susu, kerudung, dan lain-lain yang harganya terjangkau. Sepulang bekerja mereka akan mencari kabar anaknya satu persatu, dan apa yang ditanya pertama kali? “ wes sholat? (sudah sholat?) dan “wes ngaji?” (sudah ngaji?).

Pertanyaan sederhana tapi bernilai mulia. Anak zaman dahulu akan takut jika menjawab “belum shalat”, karena cemeti hukuman akan melayang. Shalat harus tepat waktu dan mengaji harus selalu. Tidak bisa mengaji, akan dipermalukan didepan umum. Sang orang tua akan menasihati, “Nak…, dadi wong ora iso ngaji iku rugi…, rugi sak umur hidup ndunyo akhirat”, (“Nak…, jadi orang tidak bisa mengaji itu rugi…, rugi dunia dan akhirat”)

Hidup sederhana selalu mereka tanamkan. “Makan gak makan asal kumpul” itu selalu mereka pegang. Walaupun hidup sederhana, anak-anak zaman dahulu tidak akan kekurangan perhatian, bahkan sangat diperhatikan. Sehabis maghrib surau-surau dan masjid-masjid akan selalu penuh dengan anak-anak mengaji dan menunggu shalat berjama’ah. Kenapa? Karena orang tua zaman dahulu selalu mengutamakan pembentukan Iman dan akhlaq. Jarang sekali terdengar ada anak yang berani kepada gurunya. Jarang sekali terdengar anak yang berani memandang sang orang tua ketika dinasehati. Jarang sekali ada anak yang suka membantah dan melawan orang tuanya. Menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih mudah terasa begitu kental.

Jadi apa yang sebenarnya harus diperhatikan tentang cara mendidik?. Cara mendidik orang tua zaman dahulu adalah lebih mengedepankan Al Qur’an dan As Sunah. Mereka menerapkan nilai-nilai Al Qur’an dan As Sunah. Misalnya saja :

  1. Waktu asar harus dihabiskan di masjid. Karena harus sekalian mengaji dan shalat berjama’ah dimasjid
  2. Minum harus memakai tangan kanan, dan harus duduk.
  3. Anak perempuan yang sudah haid tabu jika keluar berjalan-jalan sendiri.
  4. Banyak-banyak berdzikir di waktu menjelang maghrib

Hal-hal yang mungkin dianggap kecil, akan tetapi berkesan dan mempunyai efek. Orang zaman dahulu selalu berusaha menerapkan Al Qur’an dan As Sunah karena sudah terbukti sebagai sistem yang dapat pengusir penjajah setelah dijajah 350 tahun lamanya.

Di zaman sekarang ini kita perlu mengambil kembali sistem atau cara didikan orang tua zaman dahulu, tentunya yang positif dan bermanfaat. Apakah sistemnya itu?. yaitu kembali lagi kepada Al Qur’an dan As Sunah. Sebuah sistem pendidikan yang sangat efektif untuk berbagai generasi dan berbagai usia, dari zaman dulu hingga hari kiamat tiba. Sistem yang luar biasa kompleks dan tiada tandingannya, dialah Al Qur’an, mu’jizat agung dariNYA untuk para hambaNYA yang ingin selamat di dunia dan di akhiratnya.

Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam mendidik anak zaman sekarang:

  1. Ajarkanlah kepada anak-anak kita mengenal Allah sebagai satu-satunya tuhan

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, ‘wahai anakku, janganlah engkau mempersekutikan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar’ ” (Q.S Lukman:3)

  1. Pada usia kehamilan dan balita, ajarkanlah kepada anak kalimat-kalimat yang baik dan kenalkanlah dengan ayat-ayat Al Qur’an.
  2. Biasakanlah mengajak mereka untuk gemar shalat sejak usia balita. Biasakanlah mereka rutin shalat 5 waktu diusia 6-7 tahun. Dan pukullah mereka jika tidak mau shalat diusia 10 tahun.

 

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Lukman: 17).

  1. Perhatikanlah akhlaqnya sesuai dengan tuntunan Al Qur’an.

Tanamkanlah dan sampaikanlah ayat-ayat Al Qur’an tentang Akhlaq, diantara adalah:

  1. Berkata yang baik dan sopan,

“ Wahai orang-orang yang beriman!, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu saling menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.” (Q.S Lukman : 12)

  1. Tidak mencela dan pandai bersyukur,

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain,(karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari pada mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”(Q.S Lukman:11)

  1. Berbicara lembut dan tidak dengan suara keras.

Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Lukman: 19).

  1. Menanamkan adab-adab berbicara

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman: 18).

  1. Jujur dan pemberani
  2. Tanamkanlah selalu kesabaran

“Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian, sehingga Kami mengetahui orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam agama Allah dan orang-orang yang bersabar di antara kalian.” (Muhammad: 31).

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153)

  1. Menghormati orang tua dan orang yang lebih tua

“ Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”(Qs. Al Israa’ [17]:23)

  1. Mandiri dan bekerja keras
  2. Bergaul dengan teman dan lingkungan yang baik
  3. Berdo’alah kepada Allah untuk kebaikan anak.

 

  1. Biasakanlah anak untuk pergi ke masjid dan mencintai masjid
  2. Sibukkanlah mereka dengan hal-hal yang bermanfaat, mengaji dan mengkaji Al Qur’an, hafalan Al Qur’an, serta mengamalkan isi Al Qur’an
  3. Didiklah mereka ilmu-ilmu dunia yang penting untuk bekal kehidupannya

 

Demikianlah beberapa hal tentang mendidik anak zaman sekarang dan zaman kedepan, Jadikanlah fasilitas yang ada sekarang ini untuk mendidik setiap generasi dengan Al Qur’an dan As Sunah.

Wallahu’alam

 

Oleh : Ika Novita Sari

 

 

 

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay