Membentuk Adab dengan Beradab

Masih segar dalam ingatan kita berita mengenai YY (14 tahun), seorang  murid SMP di Rejang Lebong, Bengkulu, yang diperkosa dan dibunuh secara biadab oleh 14 remaja. Pelakunya sebagian besar adalah mereka yang putus sekolah, yang ternyata juga pecandu minuman tuak (miras) dan film porno. Juga berita lain mengenai seorang gadis remaja (17 tahun) di Gorontalo yang mengajak pacarnya untuk membunuh ayah kandungnya, hanya karena tidak merestui hubungan mereka. Sepekan sebelumnya, seorang mahasiswa membunuh dosen di FKIP UMSU Medan karena sering ditegur dan tidak diluluskan jika tidak bersikap baik.

Cukuplah sebuah hati dikatakan mati manakala tidak ada rasa sakit yang dirasakan ketika mengetahui kabar – kabar seperti itu muncul di hadapan kita. Mungkin tidak perlu kita membuka portal berita online untuk mengetahui berita serupa yang akhir – akhir ini marak terjadi. Cukup amati lingkungan sekeliling dan akhirnya kita akan menyadari, bahwa ada kerusakan yang sedang terjadi dengan bangsa kita, dengan anak – anak kita.

Hasan Basri Tanjung dalam tulisannya “Ketika Anak Tak Lagi Beradab” menulis hal – hal tersebut dapat terjadi karena pemerintah, lembaga pendidikan dan sosial, serta keluarga belum mampu menjalankan peran dengan baik dan bersinergi dalam pendidikan anak. Kedua orang tua bertindak sebagai guru sekaligus kurikulum berjalan. Namun, bila tidak didukung oleh sekolah kedua (al-madrasah al-tsaniyah), yakni lembaga pendidikan formal dan sekolah ketiga (al-madrasah al-tsaalitsah), yakni lembaga-lembaga sosial, teman sebaya, media massa, dan publik figur, anak akan galau dan disorientasi. Ketiga lembaga ini pun akan berdaya jika dikuatkan oleh kebijakan pemerintah sebagai sekolah keempat (al-madarasah ar-raabi’ah) yang berpihak pada kebenaran dan kemaslahatan.

Sebuah sistem pendidikan, apapun modelnya dan siapapun penggagasnya akan selalu meletakkan posisi seorang guru sebagai ujung tombak dari sistem yang dibuatnya. Secanggih apapun sistemnya, sesempurna apapun sistematikanya, akan selalu bertumpu ke titik paling ujung untuk mencapai keberhasilan dalam penerapan sistemnya.

Guru adalah contoh atau model bagi anak. Tidak dapat disangkal bahwa contoh yang diberikan guru mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak, sehingga Schweitz mengatakan bahwa ada tiga prinsip dalam mengembangkan anak , yaitu pertama contoh, kedua contoh dan ketiga contoh. Guru merupakan model bagi anak baik positif maupun negatif dan turut memberikan pola bagi way of life anak. Melalui modelling ini guru akan turut mewariskan cara berpikirnya kepada anak, oleh karena itu maka peranan modelling merupakan suatu yang sangat mendasar. Melalui modelling anak juga akan belajar tentang sikap proaktif, sikap respek dan kasih sayang. Hal ini adalah salah satu prinsip peranan guru yang disebut oleh Covey (1997) sebagai prinsip modeling.

Ibarat sebuah teko, seorang guru akan mengeluarkan sesuatu atau bertindak sesuai dengan apa yang diketahuinya. Guru juga akan mencontohkan, sengaja atau tidak sengaja apa yang menjadi kebiasaannya. Inilah poin pentingnya. Dalam kondisi sadar, seorang guru tentu akan berusaha untuk mengajarkan segala sesuatu yang baik, yang sesuai dengan norma, dan segala hal yang bersifat positif. Karakter asli dari seorang guru akan terlihat dalam kondisi yang tidak disadari, entah dalam kondisi yang sangat menggembirakan, mengejutkan, atau menyedihkan sekalipun.

Membiasakan perilaku, akhlaq, adab dan segala sesuatu yang baik dalam rangka pembentukan kepribadian seorang guru tidak hanya cukup diketahui teorinya saja, entah dari buku, majalah, ataupun sumber lainnya. Sesuatu yang terus menerus dikerjakan akan menjadi kebiasaan dan akan tampak secara otomatis di manapun kita berada. Rasulullah SAW sebagai qudwah hasanah telah dengan sangat sukses mengajarkan kita bagaimana membentuk kepribadian para sahabat dan orang – orang yang terukir namanya dalam sejarah kejayaan Islam. Hal ini telah Allah SWT jamin dalam salah satu firman-Nya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah, hari akhir (kiamat), dan dia banyak menyebut Allah,” (QS Al-Ahzab: 21). Beliau tidak hanya menasehati, namun juga mempraktekkannya sendiri. Ayat – ayat yang turun kepada beliau tidak hanya disampaikan begitu saja kepada pendengarnya, namun juga menjadi motivasi bagi beliau untuk melakukannya.

Juga perhatian seorang guru terhadap hal – hal kecil seperti bagaimana kita makan, minum, tersenyum, akan menjadi sesuatu yang sangat terasa pengaruhnya kepada anak didik manakala hal – hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang dibiasakan. Mengingatkan seorang siswa yang sedang makan menggunakan tangan kiri akan refleks dilakukan ketika makan menggunakan tangan kanan telah menjadi kebiasaan seorang guru. Mudah saja bagi seorang guru untuk menjelaskan mengapa kita harus murah senyum kepada orang lain. Namun tanpa menjadi guru yang mudah senyum, penjelasan tersebut hanya akan tergilas waktu dan hanya menjadi teori yang sulit ditemukan kenyataannya pada anak didik.

Sosok Bu Muslimah dalam kisah novel “Laskar Pelangi” mungkin bisa sedikit menginspirasi bagaimana karakter seorang guru mampu demikian kuatnya memperngaruhi kepribadian siswa – siswinya. Penggambaran tekad kuat dari seorang Bu Muslimah, dan dengan keteladanan berupa kesabarannya, keteguhan hatinya, dan rasa empatinya mampu menginspirasi murid yang hanya 10 orang tetap menggelora semangat belajarnya walau harus melewati hutan dan menyeberangi kolam yang dihuni buaya ganas.

Seorang guru yang baik akan terus melakukan proses pembelajaran, disadari atau tidak. Seorang guru tidak hanya wajib untuk menyuplai pengetahuan kognitifnya dengan pelatihan – pelatihan, bahan bacaan, dan lain sebagainya, tapi juga harus kontinyu melakukan perbaikan terhadap sisi afektifnya, sehingga pembiasaan – pembiasaan yang baik dari seorang guru akan tertular secara otomatis kepada anak didiknya ketika karakter tersebut sudah melekat pada guru tersebut. Bahkan mungkin tidak hanya kepada anak didiknya saja, namun juga kepada keluarga, ataupun lingkungan sekitar sehingga capaian – capaian keberhasilan dalam sebuah sistem pendidikan akan dengan mudah diraih.

Kini saatnya kita, terutama dalam posisi sebagai guru atau pendidik, tidak melulu menyalahkan sifat anak yang sulit dinasehati, keras kepala atau bandel. Ini saatnya kita mulai berbenah dan melakukan muhasabah alias introspeksi diri kita sendiri. Sudahkah kita menjadi suri tauladan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah? Atau hanya sekedar menjadi jembatan ilmu tanpa peduli bagaimana moral dan akhlaq anak didik kita?

 

Oleh : Eka Jana Walianingsih

 

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay