Mereka Bukan Hanya Balita

Melihat tingkah polah balita dengan kelucuan dan keluguan mereka pasti menggemaskan. Mulai dari belajar bicara, berjalan, reaksi lucu terhadap suatu hal yang baru dikenalnya hingga “berlagak” meniru gaya orang dewasa. Fase balita mereka tidaklah lama, hanya 5 tahun. Ya waktu yang sebentar untuk menghabiskan waktu-waktu berkualitas kita sebagai orang tua.

Sebagai orang tua, kita akan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita. Makanan terbaik, mainan terbaik hingga pendidikan terbaik, akan kita upayakan agar kelak kehidupan mereka memiliki masa depan yang cerah, yang lebih baik dari orang tuanya. Namun, kadang sering terlupakan, versi terbaik kita apakah sudah sesuai dengan apa yang dibutuhkan untuk masa depannya kelak?

Coba kita cermati. Ketika anak jatuh saat bermain, sudahkah kita memotivasinya untuk lebih berhati-hati? Atau malah memarahinya atau menyalahkan benda lain yang dapat menjadi penyebabnya jatuh serta menjadikan tempat yang aman dan nyaman agar mereka tidak jatuh lagi?

Ketika anak tidak mau makan sayur, sudahkah kita memberinya contoh makan sayur sehat dan menanamkan pemahaman akan manfaat sayur bagi tubuh kita dan menuruti makanan apapun yang mereka inginkan asal mereka mau makan? Ketika mereka melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita dan membuat kita marah, sudahkah kita mengajaknya bicara dan mendengarkan apa yang menjadi alasannya melakukan hal itu? Atau menjadi marah hingga kontak fisik yang membuat hatinya terluka?

Ayah bunda, reaksi kita terhadap setiap perilakunya maupun kondisi di sekitarnya akan terekam kuat dalam memori mereka. Secara tak sadar itu akan berperan dalam membentuk karakter dan sifatnya.

Kita yang saat ini menjadi orang tua, masih ingatkah kita bagaimana ketika kita kecil dulu? Bagaimana Ayah dan Ibu kita memperlakukan kita saat kecil? Dan apa saja yang kita tiru dari mereka dalam mendidik anak-anak kita saat ini? Orang tua yang saat ini sering mengancam anaknya ketika tidak mau makan misalnya, dapat dipastikan karena dulu saat mereka masih kecil mereka juga diancam oleh orang tuanya, dan masih banyak hal yang tanpa kita sadari kita tiru dari pengalaman masa kecil kita. Namun, tidak semua pengalaman masa kecil kita buruk, banyak pula pengalaman baik yang menghujam di diri kita sehingga kita sukses hari ini.

 

Tidak ada sekolah khusus menjadi orang tua, yang memberi ujian dan ijazah kelulusan agar siap menjadi “Ayah Bunda”. Pendidikan untuk menjadi orang tua itu dimulai sejak seorang anak lahir di dunia hingga kelak kita meninggal. Berbuatlah dengan sadar atas kebaikan dalam segala peran kita terhadap anak.

Memberikan pemahaman akan kemandirian misalnya, dapat dimulai dari hal yang sederhana yaitu memberinya kesempatan untuk makan sendiri tanpa disuapi, walaupun berantakan. Memberinya pekerjaan rumah yang cocok dengan usianya, meski malah membuat rumah berantakan.

Hal-hal sederhana ini akan mengajari mereka berproses dan mempersiapkan diri mereka kelak. Karena kita sebagai orang tua tidak melulu di sampingnya dan mendampingi setiap fase hidupnya. Kelak mereka akan menjadi Ayah Bunda juga seperti kita. Persiapkan mereka untuk menjadi lebih siap dan pastinya lebih baik dari kita.

 

SangPutri

 

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay