Anda Otak Kanan, (dan) Saya Otak Kiri?

“Wah saya gak cocok ngurus administrasi. Saya ‘kan bukan otak kiri yang selalu terstruktur.”

“Kalau masalah tema coba minta Pak Anu untuk buat. Dia kreatif sekali orangnya. Otak kanan banget.”

“Kalau mau jadi pengusaha sukses, mulai saja dulu. Orang otak kanan itu begitu cara berpikirnya. Nanti pasti ada saja idenya. Nah pekerja-pekerjanya nanti supaya rapi, ambil orang-orang otak kiri.”

Pernahkah mendengar obrolan semacam itu? Berdasarkan pengalaman pribadi saya sering mendengarnya, mulai dari ketika masih kuliah, seminar-seminar ekonomi dan bisnis, sampai hari ini pun tak jarang sekat-sekat kanan dan kiri itu masih dijadikan pengategorian dalam suatu kelompok.

Apa benar ada kategorisasi semacam ini; “Anda otak kanan kerjanya ini saja, Anda otak kiri yang ini.”? Sampai detik ini saya adalah salah satu yang belum sepenuhnya meyakini bahwa kategorisasi ‘otak kanan’ dan ‘otak kiri’ itu benar adanya. Sepengetahuan saya, Memang benar ada bagian otak yang khusus bertanggungjawab untuk hal-hal tertentu seperti bahasa dan visual. Namun otak kanan dan otak kiri sama-sama bekerja untuk memunculkan kreativitas atau bahkan logika matematikanya.

Pembedaan kanan dan kiri ini akan berdampak pada dikotomi suatu kelompok. Menginterpretasikan bahwa mereka adalah dua kelompok yang saling tolak belakang dan harus dimaklumi satu sama lain. Contohnya,

“Dia kok saklek begitu ya orangnya?”

“Ya orang otak kiri ya begitu. Maklumi saja.”

Atau seperti ini,

“Inovasinya kok kejauhan ya. Kan ada batas-batasnya.”

“Ya begitulah orang otak kanan. Biarkan saja.”

Selain itu, seolah-olah orang otak kanan hanya akan sukses di bidang kreativitas, musik, seni, dan sebagainya. Begitu pun anggapan kepada orang-orang otak kiri tidak akan pas jika mengurusi seni dan sebagainya.

Lagi, berdasarkan pengalaman pribadi, ada seseorang yang sering ‘dicap’ sebagai orang otak kiri. Mulai dari SMA sampai kuliah dia sangat menyukai bidang matematika. Ditambah ketika tes IQ dia memeroleh predikat K (kurang) pada kolom kreativitanya. Apakah itu membuktikan bahwa dia benar-benar ‘otak kiri’? Tidak. Seiring berjalannya waktu nyatanya dia berhasil menjadi pelatih tari untuk sebuah acara pentas tahunan, yang (katanya) itu sama sekali bukan bidang ‘otak kiri’.

Kasus di atas mungkin saja sudah membuktikan bahwa tidak benar-benar ada orang hidup dengan dominasi otak kanan atau otak kirinya. Semua bagian otak sama-sama memberikan kontribusi untuk kreativitas dan logikanya. Orang-orang yang terlanjur dilabeli ‘otak kiri’ tidak berarti ia tidak cocok di bidang seni, begitupun si ‘otak kanan’ tidak berarti tidak pandai menalar dengan logika yang cukup kuat. Seperti kata seorang penulis yang dilabeli ‘pakar otak kanan’, “Sukses bukan soal bakat. Tapi soal kerja keras dan mau belajar.”, itu berarti semua orang bisa sukses di semua bidang yang ia inginkan, bukan? Tidak terbatas pada kategorisasi otak seperti yang telah kita bahas di atas.|

 

Oleh : Ustadz Ahmad Saiffudin, S.Si

Share Yuk ...

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay